Saturday, January 9, 2016

Proses = (sabar + belajar terus + tabah + tangguh)HASIL = (Proses x doa) + air mata

Judul yang aneh, tapi nyata, meski belum selama Einsten merumuskan teori Relatifitas kami membutuhkan 7 tahun untuk memahami bagaimana teori itu terbukti bagi kami.
Kami sepasang orang tua yg pernah tersedu rindu berharap menggantungkan gambar anak kami, si Jalu, dimeja kerja. Gambar yang ada ayah, ibu berpegangan tangan dengan anaknya atau gambar hati dengan panah bertuliskan"I love you mom" or "I love you daddy". Meja kerja kami bersih dari pengobat rindu si kecil di rumah yang berupa gambar2 manis seperti itu, sementara meja kerja para sejawat seru dengan kiriman gambar aneka rupa ekspresi cinta si buah hati.
Kami sepasang orang tua yang di perkumpulan keluarga hanya bisa senyum dan memuji keelokkan prilaku para keponakan, prestasi yang segudang dan kami cuma bisa "nyerengeh" ketika si gagah perkasa memandang kagum saudara-saudaranya yang bisa membaca lancar.
Ayah adalah partner curhat dan penguat terbaik ketika saya dititik terendah saat kelas 2 SD, si Kasep belum bisa menggabungkan bunyi ba dan bi menjadi ba-bi. Bantal jadi 'soundproofer' saya saat ingin menjerit mengosongkan beban di dada. Entah berapa sejadah sudah saya tiduri setelah kelelahan menangis bertanya dan bertanya pada sang khalik. Tissue tak pernah sanggup menyerap air mata saya, harus handuk kecil!
Setiap awal semester setelah si Gagah tidak mau lagi terapi saya isi dengan membuat menentukan target Pencapaian di breakdown menjadi target harian dan dituangkan dalam bentuk IEP rumahan. Setiap malam tiada hari tanpa remedial, membiasakan membaca, latihan menulis, menggambar hingga meronce. Buku sengaja saya letakkan di ruang tamu, living room, kamar tidur hingga kamar mandi agar si Cakep tidak benci dengan bacaan. Setiap sudut rumah disesuaikan agar kemampuan executive function terlatih. Setiap menit diatur dengan parenting 'absurd' yang membuat si Hebat kerap bertanya kenapa di rumah si X ini itu boleh tapi dirumah ga boleh?
Setiap awal tahun ajaran baru saya menghadap guru kelasnya, menceritakan apa itu disleksia, bagaimana mengakomodasi anak dengan disleksia dikelas, diskusi, menyiapkan buku support, pensil segitiga, penghapus panjang, stabilo, kertas hijau pastel, divider utk membaca. Saya sudah seperti warung berjalan.
Saya mencari berbagai tempat les yang dyslexia friendly, saya pastikan gurunya harus baik, tidak suka berkata keras, sabar tak terkira dan sanggup bertahan dengan anak yg otaknya istimewa, berbahan sehebat teflon.
That's not come easy, saya dicap ibu penuntut ga percaya kemampuan anak, ga percayaan sama orang lain, perfectionis, lebay, over protective bahkan gelar provokator pun pernah jadi gelar tambahan, ternyata tidak ada sekolah akademis apapun dimuka bumi yang bisa memberikan saya gelar-gelar tersebut, hanya sekolah kehidupan yang bisa.
Saya mengedukasi dan memaksa semua yang berhubungan si Kesayangan agar mengenal dan mendukung pola asuh kami, mulai dari asisten rumah tangga, supir, kakek, nenek, om & tante, saudara sepupu. Kuping dan hati terlatih untuk baper yang proporsional menghadapi berbagai komentar, saran hingga nasehat-nasehat.
Kecemasan tentang masa depan si sholeh ini pun pernah menggalaui hati kami, segala macam jenis pendidikan tinggi sudah kami jajaki dari sekarang. Hingga sesekali kami lupa melihat betapa banyak kelebihan dan kehebatan si Juara ini luput dari perhatian kami.
Kemampuan intrapersonal yang sangat baik.
Kemampuan berempati yang tinggi.
Kemampuan menyanyangi dengan tulus.
Kemampuan menyadari hidupnya hanya bisa bergantung pada diri sendiri dan Allah semata
Kemampuan mengembalikan semua keadaan susah melalui Al Quran meski belum bisa membacanya.
Kemampuan -kemampuan yang tidak ada nilai kuantitatifnya.
Kami tidak pernah berharap si Permata hati memiliki nilai "Straight B" atau 2-3 angka diatas KKM, mengetahui dia memahami apa yang dia pelajari saja rasanya sempurna sudah.
Hingga, Allah pun jatuh hati pada kami dan memberi cicilan-cicilan hadiah indah. Bunga dari investasi doa, kesabaran dan pembelajaran. Penghibur dari tangis, ketabahan, kekeraskepalaan sepasang ayah ibu.
Mulai dari guru kelas yang jingkrak2 bahagia ketika si Tangguh mulai bisa membaca teknis, guru orthopedagog yang sampai beratem membela muridnya melawan keputusan sekolah yang tidak berpihak, guru bahasa inggrisnya yang luruh dengan cerita disleksianya. sampai seorang guru kelasnya yg persisten kalau si Baik hati ini akan bisa melalui UN.  terus,  benar! nilai UNnya tinggi hingga kaki kami lemas bergetar karena tidak percaya dan banyakkkkkkk lagi hadiah-hadiah Allah yang 'muruluk' seperti hari ini, kami melihat pengumuman di sekolahnya bahwa hasil sidang dan presentasinya akhir semester lalu si Kasep ini termasuk dalam 5 yang memuaskan (terbaik) dari seluruh kelas 7,8 & 9. Kami berdua termangu tidak percaya ..
Kami tahu, ini bukan usai, perjalanan penuh warna ini adalah milik kami hingga waktunya selesai. Bahkan ketika si Kasep kami yang lain pun ternyata akan melalui jalan yang sama, kami harus siap untuk mulai dari nol dengan lebih baik.
Kami sepasang orang tua yang menikmati berlayar dalam terang, mendung dan badai. Menikmati lelah, letih, tawa, airmata, kesal, frustasi hingga bahagia, senang, haru, bangga dengan ikhlas. Menikmati setiap proses yang dilalui ..
At the end, kami percaya, Allah mempercayakan si Jalu, si Hebat, si Kasep, si Pintar, si Cakep, si Juara, si baik hati, si permata hati, si Lucu, si Tangguh, si Juara, si Kesayangan, si Gagah Perkasa, si Buah hati tentunya dengan 'pertimbangan' bahwa kami diharuskan bisa menjalankan amanahnya.