Monday, January 31, 2011

Seminar & workshop Pendidikan

Sekolah Alam Bandung mempersembahkan:



Seminar dan Workshop Pendidikan Sekolah Alam Bandung
Seminar Masalah Belajar dan Prilaku pada Anak, Penanganan dan Langkah Penanganan

-direkomendasikan u/ orangtua, guru dan umum

Minggu, 13 Februari 2011 jam 09-12.00



Workshop Memahami Karakteristik Gangguan Belajar dan Kesulitan Belajar

- direkomendasikan u/ guru, pedagog, terapis, mahasiswa pendidikan dan umum termasuk ortu yang berminat mendalami

Minggu, 13 Februari 2011 jam 13.30-17.00



Pembicara: Adi D. Adinugroho-Hortsmann, Ph.d

Ortopedagog dan asisten profesor di University of Hawaii, USA. Berpengalaman lebih dari 15 tahun dalam mengajar dan menangani anak-anak berkekhususan terutama kondisi mild-severe di Indonesia dan di USA.



Tempat: GSG Salman ITB
Jl. Ganesha no 7 Bandung


Investasi :
seminar Rp 100.000
workshop Rp 250.000 (disc 10% untuk mengikuti keduanya)

Fasilitas:

seminar & workshop kit, snack, lunch (u/ workshop), sertifikat, door prize, tempat penitipan anak



Pendaftaran:

Ida Yasin (081320905791)

Tria (081395314545) FB: tria barmawi Email: triabarmawi@gmail.com
sasa (08112227460) email : e.prasty@gmail.com



Thursday, January 20, 2011

Talking to Louis Barnett an amazing Dyslexic entrepeneur at Bridge Radio


One of the best  ways to  spend a Sunday, in my opinion, is at my local radio station,  Bridge Radio 102.5  FM,  which is run a by a great bunch of committed, if  slightly mad enthusiasts and few  Sundays ago, I was privileged to be part of Dr Paul’s Sunday show ‘Bridge Matters’.Paul invited along  myself and  a local young  entrepeneur by the name of Louis Barnett, who at the tender age of 19 is a licensed chocolatier,and  became the youngest supplier to both Sainsbury and Waitrose at the age f 14.

Born in the Staffordshire village of  Kinver,  he left school at 11 years  due to learning difficulties to be home educated.He was later diagnosed with Dyslexia and Dyspraxia.

He started making chocolates for friends and family and in 2005 he formed a company Chokolit Ltd.,to deal with the growing demand.He is now an ambassador for the British Dyslexia Association as well as a  lobbyist against the destruction of the habitat of the Sumatran Orang-u tan through intensive palm oil production.He  received the Lord Carte Award for excellence in the food industry and was nominated for a Young Entrepreneur Award in 2007.

Talking and listening  to this erudite, intelligent  young man (hear a clip of the show), talk with such ease,  and charm, showing very few signs of the Dyslexic condition, his struggle with conventional approaches to learning,I sensed that  he had found and utilised his strengths and indeed used  to his  advantage the ‘outside  the box’ thinking skills, which are part of the natural strengths of most  Dyslexics.It also became clear to me that this unconventional education has  helped to set Louis on the  road to his success.

We are only too aware of this  need at LTS and so we have included a new  series of workshops to be run at the centre, entitled   ‘MIND OVER MATTER….’  open to anyone, but we particularly welcome teachers /parents/trainers/ HR managers.More details on a later blog.

Louis is a shining, yet typical example of how Dyslexics  can become  successful entrepreneurs despite their difficulties.Indeed Louis is very aware of this and  is soon to be taking on a new role of business mentor.(See my blog on why Dyslexics make great entrepreneurs).

If you have been inspired by this story or  would like to read more about Louis, go to www.chokolit.com or find him on Facebook and Twitter.

Inspirational thought ….People don’t only succeed through success;they often succeed through failures.

Success isn’t how far you’ve come,but how far you are from where you started….

Saturday, January 8, 2011

antara idealisme dan kenyataan

Sebuah hal menarik membuat saya memiliki paradigma baru tentang konsep pendidikan di indonesia.

Begini ceritanya..
Tadi siang dalam sebuah parenting terbatas untuk pembukaan kelas khusus Disleksia yang telah diakui dan disetujui keberadaannya oleh diknas propinsi jawa barat, pembicara tamu dari diknas menpresentasikan tentang desain pendidikan inklusi 'versi' diknas. Saya suka sekali, sesuai dengan impian saya selama ini.

Jadi Ternyata, apa yg disampaikan tadi sungguh program yang sangat ramah anak secara individual, menghormati semua potensi anak dan hak-hak nya untuk mendapat perlakuan pendidikan secara pribadi. Saya kagum, sebenarnya dengan program tersebut, negara sudah memfasilitasi setiap anak utk berkembang sesuai dengan kompetensinya, tidak memaksa mengikuti program/kurikulum yg 'mubadzir' di masa depan anak ... Saya tersenyum, kemana saja informasi ini all the time going?. Kemudian disampaikan meski kenyataan 'tak seindah daun kelor' di lapangan, sebagai orang tua yang mengidam2kan pendidikan ideal bagi anaknya, ini adalah harapan yang indah.

Namun, sayangnya informasi bagus ini tidak sampai sebagaimana mestinya ke tingkat kota/kabupaten, sehingga degradasi ini juga merambat ke satuan pendidikan (sekolah) di tingkat kota apalagi hingga ke kabupaten. Sialnya, ... :p ... Kekuatan penguasa daerah juga menentukan jalannya program bagus ini. Sukabumi sudah terbuka, bogor sudah terbuka ... Bandung belum ... (Sibuk dengan penghargaan kepariwisataan, tadi liat bannernya di depan BalKot).

Sang Pembicara mengakui, realita ini kendala teknis yg harus dihadapi dan diperjuangkan. Namun sulit jika paradigma stakeholder penyelenggara pendidikan belum memaknai konsep inklusi sebagaimana hakikatnya dan merubah cara pandang terhadap target pencapaian per murid ..

Banyak yang belum mengetahui (apalagi orangtua barangkali) apa fungsi Ujian-ujian yang ada selama ini. Saya juga kaget (shallow banget :p) ternyata ujian -ujian tersebut ga ada hubungannya ama anak, semua sifatnya secara regional atau nasional hanya untuk memetakan dimana posisi sekolah atau bagaimana program2 pendidikan yg didesain lembaga tersebut efektif terhadap anak (indonesia), sialnya (lagi) kok anak-anak yang kena getah nya hahhaha ...

Hal lain, menyoal rata-rata nilai anak, tidak kah kita merasa sangat tidak 'apple to apple' kalo nilai matematika, bahasa,olahraga, kesenian di ambil summary nilainya utk mendapat nilai rata2 performance anak. Kalau menilik ke multiple intelegensia, bukankah tidak semua anak bisa punya nilai rata pada setiap mata pelajaran? Sehingga kasian sekali kalo matematika 2 dan keseniannya 10 , nilai rata2 dia cuman 6! Sehingga keberbakatan dia di bidang seni ga ada artinya sama sekali! ..

(Jadi selama ini NEM itu ga menghargai potensi anak ya :p)

Makanya, yang tadinya (cieeeehh ...) saya ga pro ama 'pendidikan nasional'. Jadi ngerti, itu bukan yang saya ketahui selama ini, I judged diknas for nothing! Saya sama seperti masyarakat lainnya yang menganggap Ijazah itu luarbiasa!

Namun, jadi satu2 nya yang ngerti dan paham di tengah pandangan masyarakat yang masih 'jaman dulu' juga tidak akan membantu reformasi pendidikan ini lebih cepat ...

Saya share ini, dengan harapan semakin banyak orang yang tau 'impian' tentang pendidikan yang baik ini. Yuk, cari informasi yang benar dan mengelola informasi yang benar (terutama, Hai anda yang ada di diknas ringkat kota/kabupaten) sehingga masyarakat bisa kasih dukungan dan pengawasan agar proses pendidikan anak2 kita ini sesuai tepat dan membangun potensi anak ...

Wednesday, January 5, 2011

Two years and many years to come


Sekitar januari 2009, sebuah jawaban akhirnya memutus belitan pertanyaan yang telah lama menganggu kenyamanan kami. Menjawab semua pertanyaan tentang kesulitan-kesulitan yang tidak masuk akal. Jawaban yang memasukan kami ke sebuah kehidupan yang baru. Dunia Dyslexia.

ah kesulitan membaca dan menulis saja, ternyata kompleks.

Dyslexia, sebuah neurodiversity, bukan kecacatan tapi menjadi bagian seumur hidup dawwi. Diagnosa nya dyslexia dan kawan-kawan, dyscalculia dan dysgraphia. 'Kesederhanaan' masalah ini buyar setelah saya banyak belajar tentang dyslexia, karena seiring tumbuh kembang nya yang terintegrasi masalah psikologis akan jadi negative impact yang luar biasa jika dyslexia di hadapi setengah hati. Saya dan ayah pun hidup di dunia ini, dunia dyslexia ..

Gangguan prilaku pun membuat kami bersikap 'khusus' menghadapi dawwi. Tak jarang kritikan tajam mampir ke kuping kami :).

Dyslexia is not simple back than.

Buku, internet, seminar, workshop, parenting class, dokter, psikolog jadi sahabat-sahabat terbaik menemani kami 'digging up the things'. Kadang lelah, sering menangis, sering kesal, tidak sabar tapi itulah bagian dari perjalanan kami bersama-sama.

Namun Dawwi anak yang beruntung, semoga keberuntungan nya seperti kalung yang selalu menggantung dileher, bersamanya selalu. Kasus dyslexia diagnosanya kebanyakan tegak sekitar kelas 3-4, saat masalah mulai muncul dan dampak-dampak dari masalah tersebut mulai mengisi pertumbuhan psikologis si anak. Dua tahun lalu, dawwi dinyatakan dyslexia pada usia 5,5 tahun saat masih di TK B. Terapi prilaku mengawali perjalanan panjang ini hingga saat ini menjalani terapi remedial+prilaku. Kami punya kesempatan mempersiapkan dawwi menerima keadaanya secara menyeluruh dan 'mempersejatai' nya untuk menempuh perjalanan panjang. Tidak cuma dokter,psikolog (juara bageur na) dan terapis yang sabar, Dawwi juga di dampingi guru yang mengerti keadaannya dan berdedikasi luar biasa (mau menerima dan membimbing dawwi, mau belajar tentang hal baru, sangat luar biasa ikhlas membantu dan bekerja sama). Dalam kelelahan saya, biasanya saya akan menghubungi gurunya, ibu ayu (dulu dgn bu indri, bu euis, pak wahyu, sekarang pak alip dan ibu vina orthopaedagog di sekolah). Mendengar cerita dan evaluasi bu ayu dan guru2 yang lain membuat saya lebih 'seimbang' memandang perkembangan dawwi serta membuat saya lebih bersyukur ....

Sepanjang jalan ini, tadi saat makan siang saya mendengarnya membaca tentang 'lahirnya' gunung krakatau dari buku yang baru kami beli, saya tak kuasa menahan diri memeluk dan menciumnya di tengah hiruk pikuk restoran. Jalan yang penuh warna ini memberikan hasil dan harapan bahwa setelah jalan berikutnya yang akan kami tempuh dawwi pasti akan jadi ksatria dunia, entah jadi apa kelak dia saya yakin dia akan menaklukan dunianya.

Semoga keberuntungan selalu jadi milik mu, nak! Semoga Allah mengizinkan dan memberi kemampuan untuk ayah bunda mendampingi mu terus hingga dunia di tangan mu ...

Saya yakin perjalanan panjang berikutnya bisa kami lalui ...


Bandung, januari 2011