Saturday, April 6, 2013

Mengejar waktu yang berjalan lebih lambat dari semestinya


Bisakah itu terjadi?

iya, saat kita ditempatkan sang pencipta hidup berdampingan dengan mereka yang tidak (belum) bisa hidup di sepercepatan waktu alias hidup dengan "delay".

saat usia perkembangan anak tidak sesuai dengan miles stonenya, kita ada disana berjalan meniti waktu gemas saat jarum-jarum jam bergerak tepat setiap detik dan kita butuh seratus detik kemudian untuk mengejarnya. tak banyak yang paham, ada perasaan mendera saat kita sebenarnya mampu mengikuti hitungan detik tapi hati kita tertancap pada cinta dan kasih sayang yang tadi itu.ada greget kesal, rusuh, emosional, nafas panjang tak putus-putus dan kadang tak urung ingin menjerit. demikianlah yang ada dalam hidup saya dan beberapa teman yang menikmati hidup di jam tepat waktu tapi tak mampu mengejar kecepatannya.

tetapi disatu titik, jarum kami akan bertemu pula dengan jarum jam yang berputar tepat waktu tersebut. bukankah demikian hidup? sebab Allah maha baik, itu sebuah gambaran bahwa disabilitas bukan tak mampu. kecepatannya saja yang berbeda.

semalam disebuah toko mainan, seperti biasa saya selalu melipir kebagian edutoys mencari sesuatu yang bisa membantu saya membuka cakrawala-cakrawala dawwi (dan kafi) belajar. sebuah buku dengan jam jarum menarik perhatian saya. sebenarnya sudah pernah membeli beberapa edutoys tentang pengenalan jam. mulai dari yang jarum, digital mode sampai yang linear, saking bosannya edutoy tersebut sudah berubah kelengkapannya dan kami lupakan. hingga tahun lalu saat ulang tahun Dawwi kami putuskan membelikan jam tangan yang ada jarumnya dan digital sekaligus lalu lupakan kita pernah belajar membaca jam.

ada disebuah perjalanan saya suka berhenti dan membiarkan waktu berjalan sendiri, saya juga suka lelah dan putus asa. tetapi detik selalu berjalan tetap sesuai kewajibannya dan saya hanya mampu berdoa berserah, terserah Allah saja mau bagaimana cara belajarnya

Lalu buku dengan jarum jam itu saya ambil dan putar-putar didepan Dawwi yang sibuk merayu saya ingin dibelikan uno stack. saya ambil uno stack tersebut dan masuk dalam keranjang belanja tanpa banyak kompromi. tanpa jeda saya tanyakan "angka ini nunjukin jam berapa,bang?" dawwi melongo, masih bingung karena uno stack masuk keranjang begitu 'mudah'

"jam enam pas"

saya geser jarum panjang sebanyak tiga kali, "kalau ini jam berapa?"

jemarinya bergerak menghitung "jam ... enam. lima belas menit"

saya tercekat. karena dulu dia akan menjawab jam enam tiga menit karena jarum panjang ada di angka tiga.
saya geser lagi jarum panjangnya empat kali dan saya tanyakan kembali

"jam enam, tiga puluh lima menit" jawabnya setelah jari jemarinya membantu menghitung

saya peluk dia ditengah keramaian, saya menikmati bersinggungan waktu dengan jarum jam yang selalu bergerak tepat waktu, karena jarum kami yang seratus kali lebih lambat ini bertemu hanya sedetik sebelum akhirnya waktu akan tetap berjalan seperti biasa.

Dawwi hanya tersenyum sesaat kemudian berkata " ayo, ke kasir dan pulang aku ingin main uno sebelum jam sembilan tepat"

Iya,nak! kita hidup dengan waktu sendiri dalam sebuah waktu yang selalu membuat kita bergerak. jalan masih panjang :)




*) Special Thanks to Ibu Tya dan Pak Dino, You are a part of this ...

Monday, January 21, 2013

#IndonesiaJujur Ketika Maling berteriak "Maling"

ah, maaf ... sampai sesiang inipun saya masih sangat emosional dengan cerita yang sedang dialami ibu siami. rasanya di otak ini tumpang tindih, berantakan, 'pagujut' kalau ingat betapa 'tidak rapihnya' sistem pendidikan lalu ini diguyur cerita tentang rusaknya moral sekampung yang cinta dengan kecurangan,perilaku tidak jujur dan ingin menang sendiri. padahal apa sih makna ujian nasional tersebut?

jadi ingat februari 2005, ada istilah 'beken'  "uztads di kampung maling". dulu konotasinya jelek sekali tapi saat ini secara baik seperti menggambarkan nasib bu siami. yang diteriaki "maling" oleh para maling sekampung ...

tidak mudah jadi "orang benar" (kata ganti untuk "uztads" pada note ini saja), itu butuh kekuatan besar rmelaporkan kecurangan LALU tidak dianggap lagi! oleh dinas pendidikan setempat dan di adili massa!. Nasib bu siami betul betul seperti diteriaki "maling" oleh para maling :(

kenapa ya, kok bisa masyarakat berusia dewasa tidak bisa membedakan mana perilaku baik atau buruk? sebegitu susahnya kah atau memang tidak tahu? dulu mereka sekolah dimana dan siapa yang ngajarin hal seperti itu?
harapan saya mungkin buruk, tapi jangan sampai orang-orang ini jadi aparat/pejabat publik apalagi wakil rakyat (ketok meja tiga kaliiiii) , we will ruled by the dumb kata pepatah ...

orang tua dulu bilang, hidup tidak akan "jamuga" kalau tidak berperilaku jujur, seandainya di media elektronik saya bsia melihat wajah kampung tersebut barangkali pertama kalinya dalam hidup saya akan diperlihatkan begitulah contoh hidup yang "tidak jamuga"

saya, bukan maling bukan juga uztads bukan guru bukan murid. saya orang tua dengan  anak yang beberapa tahun lagi akan ujian nasional juga . Semoga saya tidak hidup di kampung maling  :( ...
Like · · · Promote ·