Wednesday, September 14, 2016

Ketika Waktunya Tiba

Sudah lebih dari sebulan ini, Si Sulung minta mandiri menjajagi angkutan kota menuju lokasi-lokasi familiar. Buat Emak yang tahu rasanya disorientasi tentu bukan hal mudah utk bisa mengabulkan permintaan anaknya. masih belum yakin apakah kemampuan spatialnya sudah siap atau belum.
Bahkan ayahnya diam-diam cemas, tapi hati ini menghembuskan kata "aman, he'll be okay" .suara hati yang layak dipercaya

Nyasar, adalah ketakutan terbesar orang tua pada anak disleksianya. --- https://dyslexiavictoria.wordpress.com/2010/05/09/dyslexia-and-spatial-awareness/

Jadi sebelum pembelajaran naik angkot dimulai, kami duduk bersama membahas hal-hal penting tentang solo travelling  seperti : mereview dulu beberapa lokasi di sekitar tenpat awal berangkat dan tiba, sesuatu untuk dijadikan landmark, meeting point, menghapalkan warna mobil angkotnya, strip khasnya, no angkot berdasarkan tujuannya, berapa uang yg harus dibawa, dimana menyimpan emergency cash, e-money card, bagaimana menjaga barang di angkot, bagaimana mengatur barang bawaan agar tidak mengganggu orang lain diangkot. dalam keadaan darurat apa yg harus dilakukan,

kami mulai secara bertahap, mengenali meeting point pertama. minggu berikutnya jarak tempuh diperpanjang, demikian seterusnya. Setiap bertemu, kami akan bahas dengan antusias apa yang dinikmati sepanjang jalan, berapa ongkosmnya, gimana tadi nyebrang jalannya, penuh ga angkotnya dan banyak lagi. hingga hari ini dia bisa pulang ke rumah sendiri dengan sukses, tanpa pantauan HP. tidak banyak tanya jawab diperjalanan.

Jarak yang 'tak seberapa' itu tetap membuat cemas dan menit-menit menantinya tiba di rumah terasa lama luar biasa. and its all end perfectly today.

Buat kami orang tua dengan anak Dyslexia (remember he's also Dyscalculia, Dysgraphia, dyspraxia & ADD)  dan zaman seperti ini yang seram ga semana zaman kita kecil bisa kukulintingan berangkot ria dengan aman, Cuman untuk naik angkutan umum aja udah luar biasa butuh pembelajaran tersendiri seperti untuk belajar beradaptasi dengan keramaian, siaga dengan keasingan, keberanian bertahan dan melindungi diri di tempat yang rawan (terminal cicaheum, hellooooo...)
kenapa harus menunggu seusia sekarang untuk belajar naik angkutan umum?, setiap anak memiliki kecepatan waktu belajar yg tidak sama, yg penting stimulasi, begitu tiba waktunya, terbangkan roketnya! semua akan baik pada waktunya


Monday, August 8, 2016

Bukan malaikat yang dirindukan

pandangi wajah anak-anak saat mereka tidur, usap lembut pipinya, andai bisa ditanyakan "duhai anakku, berapa bentakan yang kamu terima hari ini, berapa hinaan yang kau telan pagi ini, berapa lirikan sinis yang kau kerjap dimatamu hari ini?

usap lagi tangannya dengan lembut, lalu bayangkan berapa besar kesedihan yang kamu rasakan hari ini, nak? berapa besar malu yang kau tanggung hari ini, nak? berapa sesak marah yang kau tahan, nak? Adakah tumpah air matamu hari ini?

usap dadanya perlahan, seberapa hampa sisa hati dan rasamu, sayang? adakah ayah dan bunda dihatimu? adakah ibu guru dan bapak guru dibenakmu? apakah kami sosok malaikat yang kau rindukan atau sosok monster yang tak kuasa kau hadapi setiap hari.

coba peluk dia dan tiba-tiba badannya berbalik memeluk kita,
dunia terasa runtuh, remuk redam rasa di dada, seribu sesal menyesak disini, ada teraba bebanmu dihatiku, nak.
Maaf kan aku, nak
Maafkan kami ..
seberapapun banyak beban yang kita tumpahkan padanya dia masih ikhlas berbalik memeluk kita, mencintai kita, apa adanya ..
dear ayah, ibu, ibu guru, pak guru, opa, oma , om & tante

mari kita siap-siap jadi Malaikat yang bisa mereka andalkan, tidak sekedar dirindukan :)


catatan pagi

Monday, March 14, 2016

Dawwi, Disleksia dan Akomodasi UN






Tahun lalu, akhirnya kami sepakat bahwa “baiklah” jikalau Dawwi ingin dan akan mengikuti Ujian Nasional tingkat sekolah dasar. Saat itu kami masih memiliki tanda tanya besar tentang makna dan manfaat UN bagi anak Indonesia. Singkatnya, hasil diskusi dengan beberapa guru dan pemikiran panjang kami lalui sebelum memutuskan Dawwi untuk mengikuti UN.

Sejak memasuki semester genap, anak-anak mulai memasuki pola belajar yang lebih intensif untuk mempersiapkan diri menghadapi UN. Saya berkomunikasi secara intens dengan guru-guru kelas, Bu Hera & Pak Iden, mulai dari isu tren materi UN terkini hingga bagaimana kecakapan Dawwi dalam persiapan tersebut. Kemampuan membaca komprehensfi masih menjadi tantangan besar saat itu, extra-time belajar dirumah yang menguras emosi dan fisik, telah menjadi tambahan upaya meningkatkan kemampuan pemahaman baca soal yang diharapkan akan membantu dia memiliki hasil yang baik. Lagipula, Bu Hera & Pak Iden menyatakan apa yang mereka upayakan sudah maksimal dan program ‘bimbel’ pun tidak masuk dalam daftar saran demi menghargai waktu istirahat anak.

Dawwi pun memilih tidak ikut Bimbel. Saya belikan berbagai buku untuk latihan soal dirumah sebagai bentuk remedial dari apa yang sudah dilatih di sekolah. Saya mencari kertas lembar jawab UN yang mirip aslinya, scan ulang lalu print yang banyak dan dijadikan lembar latihan mengisi data diri dan mengisi soal. Ini menjadi sebuah latihan setengah nyata, sebab bagi anak dengan disleksia mengisi data diri dalam lembar jawaban UN merupakan kesulitan tersendiri. Salah-salah semua kotak/bulatan huruf akan diisi sejajar. Kesalahan yang tidak bisa diterima ‘mesin pembaca jawaban’, bukan?

Mengenali pencapaian belajarnya dari hari-hari di rumah, hasil perbincangan dengan Bu Hera & Pak Iden dan melihat hasil beberapa kali Try Out, akhirnya saya menanyakan kemungkinan Dawwi dan seorang temannya disleksia lainnya untuk mendapat akomodasi saat UN. Pimpinan Sekolah tertinggi saat itu merespon pertanyaan saya dengan jawaban yang melegakan “kami akan upayakan”. Alhamdulillah, saat itu kerisauan saya berkurang. Namun demikian, dengan prasangka terhadap birokrasi yang yang sudah ‘berabad-abad’ menguasasi citra pemikiran saya, saya harus siap apabila semua tidak sesuai harapan.

Hingga tiba suatu hari saya mendapatkan pesan untuk bertemu dengan guru-guru kelas. Disampaikanlah bahwa hasil pembicaraan pihak sekolah dengan panitia UN rayon setempat memberikan  jawaban bahwa akomodasi akan dipertimbangan untuk diberikan dengan persyaratan yaitu surat permohonan dari pihak sekolah yang dilampirkan surat keterangan dari ahli yang menjelaskan kondisi/diagnosa kekhususan anak, perkembangan anak saat ini (6 bulan menjelang UN) dan kebutuhan akomodasi yang diperlukan untuk UN. Lutut saya langsung lemas, muka saya cengengesan ‘gumun’ hati saya berteriak-teriak “ ya Allah, ya Allah, Ya Allah!” dihadapan Bu Hera & Pak Iden. Mereka tersenyum penuh arti dan berkata “bisa kan bu?’

Saya jadi teringat pesan seorang pendidik, teman lama, yang setengah menangis mengatakan “dzallim lah kita sebagai orang dewasa yang tidak bisa memenuhi hak anak-anak kita,  termasuk hak belajarnya, termasuk kebutuhan belajar anak-anak dengan kebutuhan khusus”.

Jleb....

Pun hak ujiannya, ternyata adalah kebutuhan yang harus diperjuangkan. Lalu saya jawab “Bisa bu, pak!. Saya akan dapatkan surat yang dibutuhkan”.

Waktu itu akhir bulan Maret, Sayapun bergegas mencari waktu bertemu dengan dr.Kristiantini Dewi,Sp.A, partner medis kami yang selama ini membantu dan mendampingi kami sekeluarga melalui hari hari bagai roller coaster menjalani hidup bersama anak dengan disleksia. Kami berdiskusi panjang lebar tentang persiapan UN ini. Kami menghargai dan berharap besar apa yang sudah dilakukan pihak sekolah akan membuahkan hasil dan betul-betul memenuhi hak-hak dawwi & temannya. Dengan harapan apabila ini terwujud akan menjadi sebuah breakthrough bagi anak-anak disleksia lainnya di kota Bandung dan di Indonesia bahwa anak dengan disleksia bisa mendapatkan akomodasi Ujian nasional . Hingga saat itu Ujian Nasional di Indonesia merupakan High-stakes Standardized Test, saya pribadi amat tidak menyukai ini, hingga saat tahun lalu UN masih menjadi exit exam atau penentu kelulusan di semua jenjang pendidikan di Indonesia. Sungguh tidak adil dan tidak masuk akal. Kebayang kan, anak dengan disleksia dan diskalulia dengan kesulitan belajar diarea berbahasa lisan dan tulisan dan berhitung, berpotensi lebih besar gagal daripada anak biasa yang juga sama merasakan susahnya materi Ujian berstandar. Mereka belajar enam tahun gila-gilaan lalu masa depan kelanjutan sekolahnya ditentukan hanya dengan 3 hari UN?. Padahal anak dengan disleksia adalah anak yang cerdas, secara kognitif saja mereka memiliki kecerdasan normal hingga diatas rata-rata. Itu sebabnya penting bagi anak disleksia mendapatkan akomodasi saat menghadapi ujian, apalagi ujian berstandar sama (untuk berbagai kemampuan anak) dan beresiko sangat tinggi. They do not deserve to fail, most after six years of learning!

Bagaimana surat Rekomendasi itu dikeluarkan?.
Dr. Tian melakukan assessment kembali untuk mengetahui perkembangan Dawwi terkini, sehingga bisa diketahui akomodasi apa saja yang diperlukan saat UN nanti. Setelah memberikan surat tersebut ke sekolah yang bisa kami lakukan hanya menunggu and berharap kabar yang baik.

Bulan April, saya menanyakan kemajuannya, belum ada jawaban dari panitia rayon.
Bulan Mei, tinggal hitungan hari menjelang UN, saya menanyakan lagi dan jawabannya “ dapat akomodasi bun!” .. yeayyy rasanya jantung berdegub manis. Saya seperti tertimpa buah-buahan yang jatuh ‘muruluk’ dari pohon .. “apa aja akomodasinya, pak?” lanjut saya. “sejauh ini infonya hanya ruangan dipisahkan”

Rasanya, saya ingin memungut buah-buahan yang tadi jatuh dan saya pasangkan satu-satu lagi ke masing-masing rantingnya dan menyimpan satu saja buahnya.

Hanya ruangan terpisah, apa gunanya?, cuman ini hasilnya?. Kami lalu ‘duduk’ lagi dan ngobrol panjang lagi. Beberapa tahun ke belakang, anak yang pernah mendapatkan akomodasi UN pun ternyata hanya mendapatkan ruangan terpisah. Rasanya (lagi) saya ingin menghadap siapa gitu yang ‘pintar’ dan berkuasa atas pendidikan dan pendidikan inklusi di kota ini dan bertanya “do you know how it feel for being dyslexic dan harus UN?!?!”. Cuman dalam keinginan saja sambil menggumam, kan tahu begini, ga usah ikut UN lagipula dia sudah diterima di Sekolah barunya.

18-20 Mei 2015, Tiga hari untuk enam tahun belajar. Dawwi sempat bergumam “ga adil, belajarnya enam tahun, ujian cuman 3 hari dan 3 mata pelajaran”. 3 hari yang harus dihadapi dengan persiapan yang melelahkan jiwa raga. 6 minggu sebelum ujian, dia menangis mengatakan dia banyak ga bisanya saat try out. Hasil try out di sekolah pun memberikan gambaran nilai yang membuat kami menarik nafas panjang dan menjejakkan kembali kaki sekuat mungkin ke bumi, harus realistis. Dawwi bilang ingin mengikuti bimbingan belajar, saya kebingungan, bimbel mana yang punya program 6 minggu?. Saya datangi beberapa tempat bimbel dan semua menolak, hingga akhirnya saya bisa ngobrol dan meminta ‘seseorang’ di sebuah lembaga bimbel untuk mau memberikan bimbingan secara privat dan intensif dalam 6 minggu ke depan, saya ceritakan siapa Dawwi, bagaimana keadaannya dan dimana dia bersekolah saat ini. Allah Maha baik, ternyata seseorang ini pernah menyekolahkan anaknya di sekolah yang sama dengan Dawwi dan amat memahami anak-anak seperti Dawwi. Tak perlu menunggu lama, keluarlah jadwal bimbel privat 4,5 minggu untuk Dawwi, setiap sore!.  Saya suka menangis menemani dia belajar, memeluk dan menciuminya saat tidur, memahami dan merasakan kelelahannya. Jam 8 – 14.30 di sekolah, bimbel jam 17.00 – 18.30, sampai rumah dia meminta kembali belajar, tentir. Terkantuk-kantuk hingga tertidur saat belajar. Subhanallah.

Pernah di suatu malam beberapa hari menjelang UN, saya mendapati dia beberapa kali ‘mojok’ sebelum tidur. Ternyata dia melarikan diri ke dalam Al-Quran, padahal dia belum bisa membacanya, dia tertatih-tatih menjelahi surat-surat apapun yang dia bisa baca sebisanya. Dawwi meneduhkan keresahan hati dan kelelahan jiwanya. Menemukannya memanjangkan sujudnya, diam-diam saya dengar dia merintih memohon pertolongan Allah.  Saya ikutan mojok disudut lain, menangis tersedu-sedu, sesegukan tanpa suara.  Sebersit sesal muncul, kenapa juga harus ikut UN, kok ya gini-gini amat tekanannya. Kembali saya peluk dia erat saat tidur, saya bisikan doa-doa dan semangat bahwa UN yang akan dia tempuh bukan tentang hasil NEM nya nanti, bahwa  lima bulan terakhir tersebut adalah kawah Candradimuka yang mendidihkan kerja kerasnya bahwa segala sesuatu itu harus dicapai dengan kerja keras, pantang menyerah dan untuk ‘kita’ semua itu dilakukan tujuh kali lebih keras daripada anak-anak biasa lakukan karena kita adalah anak-anak yang istimewa. Bahwa  lima bulan terakhir tersebut adalah Ramadhan extra tahun ini dimana semua kesabaran, ketabahan, keimanan ketakwaan diolah, ditempa, digilas dan dibentuk semaksimal dan lebih istimewa. Sebab ujian-ujian sesungguhnya tidak hanya tentang UN saat ini, akan ada 2 UN lagi, ujian-ujian lain baik di sekolah maupun dilingkungan sosial. Ternyata saya tidak hanya sedang membisikan itu ke telinga Dawwi, saya bisikan kedalam jiwa saya, kedalam kesadaran saya. Kamilah peyangganya yang harus dia percaya dan kepada Nyalah semua itu harus dikembalikan, sebuah pembelajaran besar tentang “Surrender to The Almighty Allah”, mojok …

Hari pertama UN, saya sedang tidak shalat dan teman-teman orang tua melenggang memasuki masjid didekat lokasi UN untuk shalat pagi. Saya meringis, iri hati luar biasa. Didalam sana teman-teman saya menyerahkan setumpuk doa dan harapan kepada Yang Maha Agung setelah dhuha dan saya cuman halamannya ‘mampu’ berdzikir dan berdzikir. Jam 10.00 anak-anak keluar saya berdegup menyambut Dawwi keluar, kami semua saling memeluk anak-anak dan menebar senyum lebar, click away muka-muka cemas kami.

Dalam perjalanan kami bertanya bagaimana ujian Bahasa Indonesia hari ini, jawabannya “good, soalnya mudah”. Alhamdulillah  … (meski sambil bertanya-tanya juga, seperti apa itu yang mudah). Sepanjang jalan pulang, meluncurlah ceritanya bahwa di tempat ujian mereka mendapatkan ruang terpisah, Dawwi dan temannya mendapat pengawas masing-masing. Para pengawas memperhatikan saat mereka menuliskan data diri di lembar jawaban, bahkan teman Dawwi mendapat bimbingan langsung penulisan data dirinya. Pengawas juga menanyakan apakah mereka memahami soalnya, beberapa soal dibacakan ulang sampai mereka mengerti, teman dawwi lebih banyak dibacakan soalnya oleh pengawas, kalau lelah mereka boleh ke kamar mandi, pengawas tidak galak sehingga tidak membuat suasana menjadi tegang, mereka diingatkan tentang waktu meskipun tidak mendapat waktu tambahan, mereka diingatkan apakah sudah menjawab semua soal dan menuliskan jawaban ‘ditempatnya’ (bukan jawaban yang benar). Saya terkesima, wow! Terbayang buah-buah yang jatuh muruluk tadi, biarlah tetap jatuh muruluk, saya rela pungutin satu-persatu. Masya Allah, saya bahagia sekali. Dawwi dan temannya dirahmati Allah, disayangi Allah, dilindungi Allah, hak mereka terpenuhi. Dia Maha Penyanyang, Maha Adil dan Maha baik

Pada hari kedua, Ujian Matematika. Dawwi bercerita soalnya lebih mudah dari yang dia pelajari di rumah, hari ini dia tidak banyak memanfaatkan tawaran akomodasi yang diberikan, hanya satu dua soal cerita saja yang dia tanyakan ‘apa sih ini artinya’. Mereka mendapatkan beberapa lembar kertas kosong untuk ‘mengotret’ , diingatkan tentang waktu dan penulisan jawaban ditempat yang benar. Teman Dawwi masih mendapatkan bimbingan penulisan data diri dan didampingi penuh oleh pengawasnya. Waktu ujianpun tidak termanfaatkan semuanya dan boleh ke kamar mandi beberapa kali.

Hari Ketiga Ujian IPA, Dawwi keluar dari mesjid dan berkata “selesai sudah tiga hari untuk enam tahun ini. Still not fair!” saya tertawa , ya sayapun merasakan demikian pada kenyataannya hingga 2014 UN tidak dimanfaatkan sebagai alat pemetaan kualitas pendidikan yang pernah dicanangkan, tingkat kecurangan yang sangat tinggi, mafia nilai dan rusaknya moral anak dan tenaga guru terkait jadi isu serius yang disorot publik. Saya bilang ke Dawwi “ tenang bang, abis ini masih ada ujian agama, outbond dan lain-lain di sekolah kok, masih Fair, pelajaran lain juga ujian” dan dia mendelik kesal sambil terkekeh. Cerita UN hari ini tidak sedasyat hari pertama, namun saya bahagia ketika dawwi bilang IPA lebih bisa dipahami, dan akomodasi yang mereka dapatkan sama seperti dua hari sebelumnya.

Hari itu saya merevisi semua kekecewaan saya, saya bersyukur dia bisa ikut UN, walaupun dia sudah diterima di sekolah barunya yang tidak butuh nilai NEM. Saya bersyukur dia menempuh segudang waktu-waktu sulit yang menempa dirinya dalam 5 bulan terakhir.

Saya melihat, sebegitu besar cinta dan perhatian tulus bapak-ibu gurunya. Bu Hera baru saja melahirkan saat itu, hari pertama beliau paksakan datang membawa bayinya yang baru lahir untuk mendukung dan memberi semangat murid-muridnya. Saya masih mengingat wajah anak-anak perempuan yang penuh haru dan menyambut kedatangan bu hera di halaman tempat mereka berkumpul. Hari-hari sebelum UN beliau dedikasikan untuk murid-muridnya belajar keras mempersiapkan UN dengan perut dan beban yang semakin besar. Saya ingatkan Dawwi dan anak-anak lain, jangan sampai berdosa kepada guru kalian, pengorbanannya penuh cinta tulus & sangat besar sekali. Pak Iden ‘terpaksa’ jadi guru tunggal yang sibuk menemani anak-anak selama UN, ketegangan terlihat dibalik wajah yang selalu tersenyum. Kepala sekolah selalu hadir setiap hari memberikan semangat kepada siswa siswi kelas 6 angkatan tahun ini.

“One looks back with appreciation to the brilliant teachers, but with gratitude to those who touched our human feelings. The curriculum is so much necessary raw material, but warmth is the vital element for the growing plant and for the soul of the child.” – Carl Jung


Sebulan berikutnya, kami bertiga, saya, ayah dan dawwi mendapatkan hasil dari perjalanan panjang 6 bulan terakhir. Mengapa kami, padahal hanya Dawwi yang UN?. Saat ayah menghadiri pembagian hasil ujian, kami memang sepakat bahwa UN bukan tentang berapa nilai yang akan didapat. Sebab begitu UN selesai kami menilai semua proses yang dilalui selama lima bulan tersebut adalah pelajaran luar biasa bagus dan intens, hasil UN yang ayah terima adalah 'hanya untuk  pembuktian" kepada Dawwi “siapa yang bekerja keras, Allah tidak akan diam, dia akan mendapatkan hasil yang luar biasa bagusnya”, berapa hasil nilai Ujian Dawwi dan temannya yang juga disleksia?

Hasilnya berbanding lurus dengan kerja keras mereka dan hak akomodasi Ujian yang mereka dapatkan. Betul-betul sepadan!

Hasilnya berbanding lurus dengan kekeraskepalaan guru-guru kelas dan orangtua untuk memperjuangkan hak akomodasi Ujian yang mereka harus dapatkan. Betul-betul sepadan!

Hasilnya berbanding lurus dengan kerja keras panitia UN sekolah meminta kepada panitia Rayon atas hak akomodasi Ujian murid-murid mereka. Betul-betul sepadan!

Allah tidak akan tinggal diam atas usaha umatnya , Allah Maha Penyayang dan Maha Adil.

Ayah tercengang sesaat begitu membuka lembar NEM ditangannya dan hanya bisa berkomentar “andai ga ada siapa-siapa di sekolah ini saya ingin gugulitikan dari atas bukit sampai ke bawah” sementara Raut muka Pak iden (bu hera masih cuti melahirkan) penuh rasa gembira puas, lega dan bahagia.

Bagi Dawwi tidak penting berapa nilai NEM yang dia raih, butuh waktu berhari-hari untuk dia menyadari bahwa hasil yang dia dapatkan itu ‘remarkable’. Ketika emosi sudah menyurut baru dia ‘ngeuh’ dan bergembira dengan dirinya sendiri bangga mempunyai nilai UN yang bagus. *tepok jidat*

Dengan selembar surat nilai UN itu, kami ingatkan kembali  bahwa semua kerja keras akan berhasil dengan baik.

Kami refleksikan kembali andaikata dia tidak belajar dengan luar biasa dasyatnya kira-kira apa hasil yang akan dia dapat?

Kami refleksikan kembali andaikata dia berserah diri dan banyak berdoa dan memohon kepada Allah, bagaimana kira-kira hasil yang akan dia dapat?

Dia menyadari, Allahlah satu-satunya tempat menggantungkan harapan, doa dan menyerahkan segala urusan kehidupan, betapa pentingnya bisa baca Al-Quran (bonus besar sebuah motivasi untuk belajar) dan betul-betul terbukti bahwa semua kerja keras yang ‘bikin mati’ (karena semua perjuangannya sudah melewati level ‘setengah mati”) akan memberikan hasil yang sangat baik dan Allah tidak pernah tinggal diam.

Sementara bagi kami ayah dan bunda, Ibu Hera, Pak Iden, pihak sekolah dan dr.tian selembar surat nilai UN Dawwi dan temannya menjadi bukti bagi pendidikan untuk anak disleksia dan seluruh sistem pendukungnya, bahwa akomodasi yang tepat adalah betul-betul hak mereka yang harus diperjuangkan & akomodasi yang tepat akan memberikan hasil yang baik sesuai dengan kemampuan mereka yang luar biasa


*********

https://www.understood.org/en/school-learning/partnering-with-childs-school/tests-standards/at-a-glance-types-of-accommodations-for-standardized-tests

http://edglossary.org/test-accommodations/

http://www.aasa.org/SchoolAdministratorArticle.aspx?id=14932

Sunday, February 7, 2016

Bun, kenapa aku disleksia

Tiba-tiba saya ingat, beberapa tahun lalu saat pillow talk dawwi bertanya "kenapa sih bun, ko aku diseleksia?".

Mengenalkan padanya tentang keistimewaannya, merupakan jalan panjang & penuh pro kontra. Saya ingat betul seorang guru setengah menyindir kelebayan saya memperlakukan dawwi. Ujarnya, dawwi sama seperti muridnya yang lain hanya butuh belajar berbeda.

Kenapa sih, dawwi perlu cara belajar yang berbeda. Retoris bukan?. Pernyataan tersebut diberikan tanpa dasar dan latar belakang pemahaman yang dangkal. Untung saya memahami 'kekurangpahaman' beliau dan ga perlu marah.

Ada beberapa jawaban berbeda saya sampaikan pada dawwi yang menjawab pertanyaannya. Berliku menuju pehamanan yang tepat, tertahan oleh keraguan, inikah waktu yang tepat? Bagaimana reaksinya , bagaimana pemahamannnya? Apa dampaknya nanti?

Saturday, January 9, 2016

Proses = (sabar + belajar terus + tabah + tangguh)HASIL = (Proses x doa) + air mata

Judul yang aneh, tapi nyata, meski belum selama Einsten merumuskan teori Relatifitas kami membutuhkan 7 tahun untuk memahami bagaimana teori itu terbukti bagi kami.
Kami sepasang orang tua yg pernah tersedu rindu berharap menggantungkan gambar anak kami, si Jalu, dimeja kerja. Gambar yang ada ayah, ibu berpegangan tangan dengan anaknya atau gambar hati dengan panah bertuliskan"I love you mom" or "I love you daddy". Meja kerja kami bersih dari pengobat rindu si kecil di rumah yang berupa gambar2 manis seperti itu, sementara meja kerja para sejawat seru dengan kiriman gambar aneka rupa ekspresi cinta si buah hati.
Kami sepasang orang tua yang di perkumpulan keluarga hanya bisa senyum dan memuji keelokkan prilaku para keponakan, prestasi yang segudang dan kami cuma bisa "nyerengeh" ketika si gagah perkasa memandang kagum saudara-saudaranya yang bisa membaca lancar.
Ayah adalah partner curhat dan penguat terbaik ketika saya dititik terendah saat kelas 2 SD, si Kasep belum bisa menggabungkan bunyi ba dan bi menjadi ba-bi. Bantal jadi 'soundproofer' saya saat ingin menjerit mengosongkan beban di dada. Entah berapa sejadah sudah saya tiduri setelah kelelahan menangis bertanya dan bertanya pada sang khalik. Tissue tak pernah sanggup menyerap air mata saya, harus handuk kecil!
Setiap awal semester setelah si Gagah tidak mau lagi terapi saya isi dengan membuat menentukan target Pencapaian di breakdown menjadi target harian dan dituangkan dalam bentuk IEP rumahan. Setiap malam tiada hari tanpa remedial, membiasakan membaca, latihan menulis, menggambar hingga meronce. Buku sengaja saya letakkan di ruang tamu, living room, kamar tidur hingga kamar mandi agar si Cakep tidak benci dengan bacaan. Setiap sudut rumah disesuaikan agar kemampuan executive function terlatih. Setiap menit diatur dengan parenting 'absurd' yang membuat si Hebat kerap bertanya kenapa di rumah si X ini itu boleh tapi dirumah ga boleh?
Setiap awal tahun ajaran baru saya menghadap guru kelasnya, menceritakan apa itu disleksia, bagaimana mengakomodasi anak dengan disleksia dikelas, diskusi, menyiapkan buku support, pensil segitiga, penghapus panjang, stabilo, kertas hijau pastel, divider utk membaca. Saya sudah seperti warung berjalan.
Saya mencari berbagai tempat les yang dyslexia friendly, saya pastikan gurunya harus baik, tidak suka berkata keras, sabar tak terkira dan sanggup bertahan dengan anak yg otaknya istimewa, berbahan sehebat teflon.
That's not come easy, saya dicap ibu penuntut ga percaya kemampuan anak, ga percayaan sama orang lain, perfectionis, lebay, over protective bahkan gelar provokator pun pernah jadi gelar tambahan, ternyata tidak ada sekolah akademis apapun dimuka bumi yang bisa memberikan saya gelar-gelar tersebut, hanya sekolah kehidupan yang bisa.
Saya mengedukasi dan memaksa semua yang berhubungan si Kesayangan agar mengenal dan mendukung pola asuh kami, mulai dari asisten rumah tangga, supir, kakek, nenek, om & tante, saudara sepupu. Kuping dan hati terlatih untuk baper yang proporsional menghadapi berbagai komentar, saran hingga nasehat-nasehat.
Kecemasan tentang masa depan si sholeh ini pun pernah menggalaui hati kami, segala macam jenis pendidikan tinggi sudah kami jajaki dari sekarang. Hingga sesekali kami lupa melihat betapa banyak kelebihan dan kehebatan si Juara ini luput dari perhatian kami.
Kemampuan intrapersonal yang sangat baik.
Kemampuan berempati yang tinggi.
Kemampuan menyanyangi dengan tulus.
Kemampuan menyadari hidupnya hanya bisa bergantung pada diri sendiri dan Allah semata
Kemampuan mengembalikan semua keadaan susah melalui Al Quran meski belum bisa membacanya.
Kemampuan -kemampuan yang tidak ada nilai kuantitatifnya.
Kami tidak pernah berharap si Permata hati memiliki nilai "Straight B" atau 2-3 angka diatas KKM, mengetahui dia memahami apa yang dia pelajari saja rasanya sempurna sudah.
Hingga, Allah pun jatuh hati pada kami dan memberi cicilan-cicilan hadiah indah. Bunga dari investasi doa, kesabaran dan pembelajaran. Penghibur dari tangis, ketabahan, kekeraskepalaan sepasang ayah ibu.
Mulai dari guru kelas yang jingkrak2 bahagia ketika si Tangguh mulai bisa membaca teknis, guru orthopedagog yang sampai beratem membela muridnya melawan keputusan sekolah yang tidak berpihak, guru bahasa inggrisnya yang luruh dengan cerita disleksianya. sampai seorang guru kelasnya yg persisten kalau si Baik hati ini akan bisa melalui UN.  terus,  benar! nilai UNnya tinggi hingga kaki kami lemas bergetar karena tidak percaya dan banyakkkkkkk lagi hadiah-hadiah Allah yang 'muruluk' seperti hari ini, kami melihat pengumuman di sekolahnya bahwa hasil sidang dan presentasinya akhir semester lalu si Kasep ini termasuk dalam 5 yang memuaskan (terbaik) dari seluruh kelas 7,8 & 9. Kami berdua termangu tidak percaya ..
Kami tahu, ini bukan usai, perjalanan penuh warna ini adalah milik kami hingga waktunya selesai. Bahkan ketika si Kasep kami yang lain pun ternyata akan melalui jalan yang sama, kami harus siap untuk mulai dari nol dengan lebih baik.
Kami sepasang orang tua yang menikmati berlayar dalam terang, mendung dan badai. Menikmati lelah, letih, tawa, airmata, kesal, frustasi hingga bahagia, senang, haru, bangga dengan ikhlas. Menikmati setiap proses yang dilalui ..
At the end, kami percaya, Allah mempercayakan si Jalu, si Hebat, si Kasep, si Pintar, si Cakep, si Juara, si baik hati, si permata hati, si Lucu, si Tangguh, si Juara, si Kesayangan, si Gagah Perkasa, si Buah hati tentunya dengan 'pertimbangan' bahwa kami diharuskan bisa menjalankan amanahnya.

Wednesday, October 28, 2015

Dawwi, The star of our heart

http://health.detik.com/read/2015/10/28/170936/3055869/775/kisah-dawwi-anak-disleksia-dengan-cita-cita-tinggi

Bukan Bodoh, Tapi Disleksia

Kisah Dawwi, Anak Disleksia dengan Cita-cita Tinggi

Jeems Suryadi Gani - detikHealth
Rabu, 28/10/2015 17:09 WIB
Kisah Dawwi, Anak Disleksia dengan Cita-cita TinggiFoto: Dokumentasi Pribadi
Jakarta, Disleksia adalah sebuah kelainan yang berhubungan dengan kemampuan penguasaan dan pemrosesan bahasa seperti membaca, menulis, mengeja, dan kadang dalam matematika. Hal ini disebabkan karena adanya gangguan pada area sensoris otak.

Dawwi Raissa (15) adalah salah satu anak yang harus memiiki disleksia untuk seumur hidupnya. Kondisinya dicurigai mulai muncul saat usia 4,5 tahun, dan baru terdiagnosa disleksia pada usia 6 tahun. Berbagai macam terapi telah dijalaninya, dan pada akhirnya kini Dawwi telah duduk di bangku SMP. Banyak sekali perjuangan yang harus dilalui Dawwi dalam menjalani hari-harinya dengan disleksia.

"Saat Dawwi mulai didiagnosa memiliki disleksia, langsung kami lakukan terapi-terapi seperti terapi perilaku dan terapi remedial untuk melatih kemampuan softskillnya. Dulu kalau bicara masih suka ngaclok-ngaclok," ujar Erlyza Sasa, orang tua dari Dawwi ketika diwawancarai detikHealth dan ditulis pada Rabu (28/10/2015).

Erlyza mengisahkan bahwa pada usia sebelum masuk SD, Dawwi memang memiliki kesulitan dalam berkomunikasi. Namun berkat terapi yang diberikan Dawwi tetap bisa lulus dan terus melanjutkan pendidikannya.

Baca jugaBanyak Ngaco Saat Kirim SMS, Tak Tahunya Gejala StrokeDalam membimbing anak dengan disleksia, Erlyza mengatakan bahwa kuncinya adalah untuk memberikan kepercayaan diri terlebih dahulu kepada anak dan baru kemudian merubah pola asuh. Hal tersebut penting agar anak tak minder dengan kondisinya dan bisa bergaul dengan orang lain.

Erlyza menekankan bahwa dalam mengasuh anak-anak yang spesial, harus menggunakan cara yang spesial pula. Orang tua tentu harus ekstra sabar menerima keadaan anak dan mau lebih capai bekerja sama dengan guru dan dokter dalam memberikan bimbingan.

"Dawwi yang bercita-cita menjadi pemilik kerata api Indonesia, katanya kalau kereta api dimiliki swasta nanti jadinya bagus seperti pesawat. Ini tandanya kan anak ini pintar. Maka sebagai orang tua kita harus tetap bangga dan menyayangi anak kita" lanjutnya.

"Harapan saya, anak-anak disleksia lain bisa beruntung dengan mendapatkan sekolah yang inklusif dan mau membimbing anak yang disleksia. Karena banyak juga sekolah yang tidak terlalu fokus kepada anak dengan disleksia," tutup Erlyza

Wednesday, October 21, 2015

Talkshow Disleksia @Coffee Break TV One, 21 Oktober 2015

Hei ..
we're on TV

berkesempatan berbagi tentang disleksia melalui media nasional, mudah-mudahan bermanfaat bagi teman-teman dipenjuru tanah air