Monday, October 17, 2011

"saya bukan emak dengan anak disleksia paling susah seantero jagad"


17 October 2011 at 12:18
ini bukan artikel baru, saya coba CoPas dan link saya lampirkan. saya membaca artikel ini untuk ingetin saya sendiri "saya bukan emak dengan anak disleksia paling susah seantero jagad". jadi saya ga lebay,emang gini keadaannya. kalau saya banyak bercerita dan berbagi semata-semata melepaskan beban (bukan galau) dan berharap semoga temen-temen orang tua dengan hidup yg sama bisa dapat pencerahan juga. *sambil berharap, sugan we ada yg mau berbagi cerita, meringankan beban dan berbagi inspirasi* why is that so necessary? yes, anak disleksia itu harus dipapar segala cara dalam hal mengajar di area kognitif,social-behaviour sampe dengan self management. Damn its true. kami orang tua ini (juga guru) emang ada yang tahu segalanya?!?!?! no.. come on! we are just human being. keterbatasan harusnya bisa jadi arena berbagi untuk saling melengkapi. sungguh, berbagi itu bermanfaat lho.

dengan artikel ini, harapan saya, semua teman yang ga ngerti masalah saya (kami) dan semua ortu with anykind of special need children jadi paham. anda ga diminta untuk nge judge kami dan kehidupan kami. ga ngerti, diam is more than enough. it'll be the very sweetest of you. if you understand, can you help other parent (beside us) just by caring?

saya tahu ga harus jadi orang tua seperti kami dulu kan untuk bisa at least being sweet to us. do you have a heart? i believe you do :)

so, happy reading ...

Super-Sabar Hadapi Anak Disleksia
http://ibuprita.suatuhari.com/super-sabar-hadapi-anak-disleksia/

Setiap orangtua pasti mengharapkan anaknya mengalami perkembangan seperti anak pada umumnya. Ketika harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sang anak menyandang kesulitan yang menghambat perkembangannya, apa yang dirasakan? Kaget dan terpukul. Itulah pengakuan orangtua yang memiliki anak penyandang disleksia (kesulitan membaca) dan disgrafia (kesulitan menulis).
Mereka bukan anak-anak dengan tingkat kecerdasan rendah. Penyandang disleksia bahkan memiliki tingkat kecerdasan normal, bahkan di atas rata-rata. Adanya perbedaan dalam mengolah kata di otak membuat mereka menjadi berbeda.
Lia dan Dana, dua ibu yang setia di samping anak-anak mereka, berbagi kisah kepadaKompas.com, Senin (2/8/2010) di SD Pantara, Jakarta Selatan. Kisah mereka bangkit dari rasa terpukul dan memotivasi anaknya untuk melawan kesulitannya. Yang pasti, penerimaan dan kesabaran menjadi kunci utamanya.
Lia: Saya Sempat "Shock"
Lia mengaku sangat shock saat mengetahui putra sulungnya, Daka, mengalami gangguan konsentrasi dan berimbas pada kesulitannya dalam membaca. Daka pun diketahui sebagai penyandang disleksia saat ia berumur 6 tahun. Lia merasa kecolongan. Padahal, perkembangan anak tak lepas dari pantauan. Hanya, ia tak membaca pertanda.
“Saya memang kecolongan, enggak realize. Anak saya memang delay speech (terlambat bicara). Umur tiga tahun vocab-nya masih sedikit. Tapi, saya pikir, karena anak masih seumur dia, normal. Saat dia TK juga belum terdeteksi. Setelah masuk SD, baru ketahuan karena pelajarannya lebih banyak. Baru ketahuan ternyata dia mengalami kesulitan. Saya shock karena anak saya ini normal, very nice,” kata Lia saat menunggui anaknya yang kini duduk di kelas II SD Pantara, sekolah khusus bagi anak dengan kesulitan belajar spesifik.
Lia mengatakan, ia membutuhkan waktu untuk menerima keadaan anaknya dan memikirkan solusi terbaik yang harus dia tempuh. “Ya saya harus bangkit. Akhirnya, saya membawanya ke terapis selama satu bulan, baru kemudian diketahui bahwa dia mengalami gangguan konsentrasi dan kesulitan membaca. Setelah itu, saya pindahkan ke SD Pantara dan dia harus mengulang lagi dari kelas I,” ujar ibu empat anak ini.
Daka, kisah Lia, mampu mengeja. Namun, Daka mengalami kesulitan saat merangkaikan huruf menjadi satu kata ataupun kalimat. “Kalau ngeja, mau. Tapi begitu diminta merangkaikannya dalam satu kata, dia enggak mau. Kata dia, ‘Hurufnya terbang-terbang, Ma’,” kata Lia, menirukan perkataan anaknya.
Penyandang disleksia memang mengalami kesulitan dalam membedakan huruf dan seolah melihat huruf-huruf yang terangkai tidak dalam keadaan utuh. Tiga bulan setelah menjalani pendidikan di SD Pantara, Daka mengalami perkembangan berarti. Ia sudah bisa membaca dan konsentrasinya meningkat. Namun, Lia menekankan, orangtua yang memiliki anak dengan kesulitan spesifik seperti ini dituntut memiliki kesabaran dan tak memaksakan kehendak kepada si anak.
“Kadang kan ada orangtua yang tidak bisa menerima keadaan si anak yang memiliki kesulitan seperti ini. Kemudian mereka memaksakannya ke sekolah umum. Kasihan si anak. Untuk belajar, sebaiknya juga kita berdiskusi dan mengikuti kapan dia mau, sekalian mendidik dia bertanggung jawab, jangan dipaksakan. Anak-anak seperti ini tidak bisa dipaksa,” ujar Lia.
Lia pun tak akan memaksakan anaknya untuk pindah di sekolah umum, jika pihak sekolah memandang anaknya masih membutuhkan penanganan khusus untuk kesulitan yang dialaminya.
Dana: Saya Menerima Keadaan Anak
Dana tak kaget saat mengetahui bahwa anak bungsunya, Gilang, mengalami kesulitan dalam menulis (disgrafia). Kesulitan ini membuat anaknya harus mendapatkan pendidikan dengan penanganan khusus. “Saya menerima apa pun keadaan anak saya. Kalau saya down, nanti anak saya gimana?” kata Dana.
Sebenarnya, kisah Dana, kejanggalan pada pertumbuhan Gilang sudah dia deteksi sejak umur 2 tahun. Saat itu, Gilang termasuk terlambat bicara dan perbendaharaan katanya tak banyak. “Sejak umur dua tahun sampai masuk SD, saya terapi dengan psikolog. Tetapi, baru ketahuan kalau dia disgrafia saat kelas II SD. Karena di situ mulai banyak menulis dan ternyata dia itu enggak mau menulis,” ujarnya.
Gilang hanya mau mengikuti pelajaran dan menjawab pertanyaan gurunya secara lisan. “Kalau disuruh menulis, dia enggak mau. Katanya, tangannya melilit-lilit. Bagi dia, menulis itu seperti petani bekerja di sawah, berat dan melelahkan. Saya dulu hanya terfokus pada kemampuan bicaranya dan melupakan motoriknya,” kata Dana.
Padahal, secara akademis, nilai Gilang tak tergolong buruk. Akhirnya, Dana dan suaminya mengambil keputusan menarik anaknya dari sekolah umum dan memasukkannya ke sekolah khusus untuk anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik, yaitu SD Pantara. Gilang harus mengulang lagi dari kelas II SD. Kini ia sudah duduk di kelas IV. Ia pun mengalami perkembangan berarti. Meskipun, kata Dana, anaknya tak bisa dipaksa untuk menulis.
“Kalau di rumah, ya saya latih untuk memperkuat motoriknya karena disgrafia ini motoriknya, kasarnya, terutama di tangan, kurang. Maka dari itu, di rumah, saya ajak dia main basket, mendorong barang yang kira-kira bisa melatih motoriknya,” ujar ibu dua anak ini.
Kedua ibu ini berharap, pemerintah memberikan perhatian lebih kepada anak-anak berkebutuhan khusus seperti anaknya. Anak-anak penyandang disleksia dan disgrafia yang memiliki tingkat kecerdasan hanya membutuhkan penanganan yang lebih khusus dari para guru. Sementara itu, tak banyak sekolah yang menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini

"saya bukan emak dengan anak disleksia paling susah seantero jagad"


ini bukan artikel baru, saya coba CoPas dan link saya lampirkan. saya membaca artikel ini untuk ingetin saya sendiri "saya bukan emak dengan anak disleksia paling susah seantero jagad". jadi saya ga lebay,emang gini keadaannya. kalau saya banyak bercerita dan berbagi semata-semata melepaskan beban (bukan galau) dan berharap semoga temen-temen orang tua dengan hidup yg sama bisa dapat pencerahan juga. *sambil berharap, sugan we ada yg mau berbagi cerita, meringankan beban dan berbagi inspirasi* why is that so necessary? yes, anak disleksia itu harus dipapar segala cara dalam hal mengajar di area kognitif,social-behaviour sampe dengan self management. Damn its true. kami orang tua ini (juga guru) emang ada yang tahu segalanya?!?!?! no.. come on! we are just human being. keterbatasan harusnya bisa jadi arena berbagi untuk saling melengkapi. sungguh, berbagi itu bermanfaat lho.

dengan artikel ini, harapan saya, semua teman yang ga ngerti masalah saya (kami) dan semua ortu with anykind of special need children jadi paham. anda ga diminta untuk nge judge kami dan kehidupan kami. ga ngerti, diam is more than enough. it'll be the very sweetest of you. if you understand, can you help other parent (beside us) just by caring?

saya tahu ga harus jadi orang tua seperti kami dulu kan untuk bisa at least being sweet to us. do you have a heart? i believe you do :)

so, happy reading ...

Super-Sabar Hadapi Anak Disleksia
http://ibuprita.suatuhari.com/super-sabar-hadapi-anak-disleksia/

Setiap orangtua pasti mengharapkan anaknya mengalami perkembangan seperti anak pada umumnya. Ketika harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sang anak menyandang kesulitan yang menghambat perkembangannya, apa yang dirasakan? Kaget dan terpukul. Itulah pengakuan orangtua yang memiliki anak penyandang disleksia (kesulitan membaca) dan disgrafia (kesulitan menulis).
Mereka bukan anak-anak dengan tingkat kecerdasan rendah. Penyandang disleksia bahkan memiliki tingkat kecerdasan normal, bahkan di atas rata-rata. Adanya perbedaan dalam mengolah kata di otak membuat mereka menjadi berbeda.
Lia dan Dana, dua ibu yang setia di samping anak-anak mereka, berbagi kisah kepada Kompas.com, Senin (2/8/2010) di SD Pantara, Jakarta Selatan. Kisah mereka bangkit dari rasa terpukul dan memotivasi anaknya untuk melawan kesulitannya. Yang pasti, penerimaan dan kesabaran menjadi kunci utamanya.
Lia: Saya Sempat "Shock"
Lia mengaku sangat shock saat mengetahui putra sulungnya, Daka, mengalami gangguan konsentrasi dan berimbas pada kesulitannya dalam membaca. Daka pun diketahui sebagai penyandang disleksia saat ia berumur 6 tahun. Lia merasa kecolongan. Padahal, perkembangan anak tak lepas dari pantauan. Hanya, ia tak membaca pertanda.
“Saya memang kecolongan, enggak realize. Anak saya memang delay speech (terlambat bicara). Umur tiga tahun vocab-nya masih sedikit. Tapi, saya pikir, karena anak masih seumur dia, normal. Saat dia TK juga belum terdeteksi. Setelah masuk SD, baru ketahuan karena pelajarannya lebih banyak. Baru ketahuan ternyata dia mengalami kesulitan. Saya shock karena anak saya ini normal, very nice,” kata Lia saat menunggui anaknya yang kini duduk di kelas II SD Pantara, sekolah khusus bagi anak dengan kesulitan belajar spesifik.
Lia mengatakan, ia membutuhkan waktu untuk menerima keadaan anaknya dan memikirkan solusi terbaik yang harus dia tempuh. “Ya saya harus bangkit. Akhirnya, saya membawanya ke terapis selama satu bulan, baru kemudian diketahui bahwa dia mengalami gangguan konsentrasi dan kesulitan membaca. Setelah itu, saya pindahkan ke SD Pantara dan dia harus mengulang lagi dari kelas I,” ujar ibu empat anak ini.
Daka, kisah Lia, mampu mengeja. Namun, Daka mengalami kesulitan saat merangkaikan huruf menjadi satu kata ataupun kalimat. “Kalau ngeja, mau. Tapi begitu diminta merangkaikannya dalam satu kata, dia enggak mau. Kata dia, ‘Hurufnya terbang-terbang, Ma’,” kata Lia, menirukan perkataan anaknya.
Penyandang disleksia memang mengalami kesulitan dalam membedakan huruf dan seolah melihat huruf-huruf yang terangkai tidak dalam keadaan utuh. Tiga bulan setelah menjalani pendidikan di SD Pantara, Daka mengalami perkembangan berarti. Ia sudah bisa membaca dan konsentrasinya meningkat. Namun, Lia menekankan, orangtua yang memiliki anak dengan kesulitan spesifik seperti ini dituntut memiliki kesabaran dan tak memaksakan kehendak kepada si anak.
“Kadang kan ada orangtua yang tidak bisa menerima keadaan si anak yang memiliki kesulitan seperti ini. Kemudian mereka memaksakannya ke sekolah umum. Kasihan si anak. Untuk belajar, sebaiknya juga kita berdiskusi dan mengikuti kapan dia mau, sekalian mendidik dia bertanggung jawab, jangan dipaksakan. Anak-anak seperti ini tidak bisa dipaksa,” ujar Lia.
Lia pun tak akan memaksakan anaknya untuk pindah di sekolah umum, jika pihak sekolah memandang anaknya masih membutuhkan penanganan khusus untuk kesulitan yang dialaminya.
Dana: Saya Menerima Keadaan Anak
Dana tak kaget saat mengetahui bahwa anak bungsunya, Gilang, mengalami kesulitan dalam menulis (disgrafia). Kesulitan ini membuat anaknya harus mendapatkan pendidikan dengan penanganan khusus. “Saya menerima apa pun keadaan anak saya. Kalau saya down, nanti anak saya gimana?” kata Dana.
Sebenarnya, kisah Dana, kejanggalan pada pertumbuhan Gilang sudah dia deteksi sejak umur 2 tahun. Saat itu, Gilang termasuk terlambat bicara dan perbendaharaan katanya tak banyak. “Sejak umur dua tahun sampai masuk SD, saya terapi dengan psikolog. Tetapi, baru ketahuan kalau dia disgrafia saat kelas II SD. Karena di situ mulai banyak menulis dan ternyata dia itu enggak mau menulis,” ujarnya.
Gilang hanya mau mengikuti pelajaran dan menjawab pertanyaan gurunya secara lisan. “Kalau disuruh menulis, dia enggak mau. Katanya, tangannya melilit-lilit. Bagi dia, menulis itu seperti petani bekerja di sawah, berat dan melelahkan. Saya dulu hanya terfokus pada kemampuan bicaranya dan melupakan motoriknya,” kata Dana.
Padahal, secara akademis, nilai Gilang tak tergolong buruk. Akhirnya, Dana dan suaminya mengambil keputusan menarik anaknya dari sekolah umum dan memasukkannya ke sekolah khusus untuk anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik, yaitu SD Pantara. Gilang harus mengulang lagi dari kelas II SD. Kini ia sudah duduk di kelas IV. Ia pun mengalami perkembangan berarti. Meskipun, kata Dana, anaknya tak bisa dipaksa untuk menulis.
“Kalau di rumah, ya saya latih untuk memperkuat motoriknya karena disgrafia ini motoriknya, kasarnya, terutama di tangan, kurang. Maka dari itu, di rumah, saya ajak dia main basket, mendorong barang yang kira-kira bisa melatih motoriknya,” ujar ibu dua anak ini.
Kedua ibu ini berharap, pemerintah memberikan perhatian lebih kepada anak-anak berkebutuhan khusus seperti anaknya. Anak-anak penyandang disleksia dan disgrafia yang memiliki tingkat kecerdasan hanya membutuhkan penanganan yang lebih khusus dari para guru. Sementara itu, tak banyak sekolah yang menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini

Sunday, May 1, 2011

Bukan Sekolah nya ...

Selamat Hari Pendidikan Nasional bagi kita semua...

kita sesapi hari ini tanpa batas profesi, karena sesungguhnya pendidikan itu dari kita semua untuk kita semua. "it take a village to raise a kid" pepatah yang sulit dicerna ketika masih ada orang tua yang berpikir "lalu untuk apa saya bayar mahal kepada sekolah untuk mendidik anak saya?". Paradigma yang masih sesat untuk semua pengharapan besar atas kualitas anak berdasarkan pendidikan formal. Hingga layak anggukan kepala jika kemudian pendidikan bukan untuk semua, masih untuk mereka yang sanggup bayar sekolah

saya harus pelan pelan menulis ini, pagi yang cukup emosional bagi saya memikirkan tentang pendidikan (sementara saya bukan siapa-siapa)

Ini bulan-bulan terakhir saat pendaftaran masuk sekolah baru, saat paling deg degan . sama deg deg an nya saat seperti akan menikah, ini bener ga sih? kurang lebih begitu rasanya.. atau rasanya seperti menempatkan sebuah dadu di meja judi, lalu hanya menatap dadu tersebut bergulir dan berhenti pada beberapa dot hitam sesuai harapan kita. sebegitukah? itukah harapan kita menempatkan anak-anak kita di institusi pendidikan? sementara iklan-iklan pendidikan dan gema-gema pendidikan idealis itu meraung-raung di kepala sampai kita pusing dan tidak bisa lagi memilih dan tahu apa yang terbaik sesungguhnya di dunia pendidikan ini.

lalu kita akan tertunduk,menghela nafas panjang dan menatap anak kita, sesungguhnya pendidikan apa yang kau butuhkan,nak?. kita sibuk mengukur diri dan berandai andai bisa jadi sesuatu yang akan memberikan kesempurnaan bagi pendidikannya

Ram Shankar Nikumbh, seorang tokoh guru di film taree Zameen Par. tidak cuman ganteng tapi berhati mulia dan punya empati seluas samudra. dia tidak menjalankan kewajibannya menjadi seorang guru karena dia sudah memilih pekerjaan tersebut, dia memilih menjadi bagian dari hidup setiap murid-muridnya. dia hadir secara intim dan pribadi bagi setiap murid nya, hingga sebuah pelukan rasanya membuatnya tenggelam di dalam bahagia lebih dari ucapan terima kasih.

siapa yang tidak ingin punya guru seperti Nikumbh? apakah sekolahnya membuat anak menjadi bintang terbang seperti ishaan awasthi? bukan! sumpah! bukan! gurunya .. itu guru nya! dan saya menulis kalimat ini dengan air mata berurai...

saya bukan pemuja guru,karena saya tahu kesempurnaan itu hanyalah milik Allah ...

tapi tahukah anda, ada.. ada guru-guru seperti Ram Shankar Nikumbh dan saya beruntung bisa berbagi tanah,udara, hati dan perasaan bersama mereka. dari mereka pulalah saya bisa banyak belajar mengenal anak saya dan memahami caranya belajar apa bakatnya dan hal-hal lain yang dibutakan oleh jargon "ibulah yang tahu segalanya tentang anak nya"

saya pernah terperangah dihujam kata-kata terdalam oleh seorang peserta pertemuan yang mengatakan "siapa bilang guru-guru itu ikon sekolah ini?" bagi saya ini perkataan tersinis sepanjang hidup saya yang pernah mampir di jidat saya sampai tidak pantas saya simpan semenit saja di hati saya,sementara dia sama dengan saya "cuman orang tua "

dengan sebuah materi yang sama, dua orang guru bisa melakukan "delivery' yang berbeda kepada murid-muridnya dan AKAN menghasilkan anak-anak yang secara  akademis berbeda pula hasilnya. tidak usah dibuktikan, pelajari saja logikanya. sehingga ketika ada hasil yang mempunyai nilai lebih tentu saja guru tersebut berhasil mewujudkan visi dan misi lembaganya.

bayangkan, sebuah sekolah yang menyatakan "inklusi" tapi kemudian menyerahkan anak dengan "disabilty' kepada lembaga lain. Terbaca jelas kompetensi guru tersebut dan tercetaklah label "sekolahnya tidak mampu menangani anak khusus". Nah ...jelas kan (pak!) yang memegang kunci adalah gurunya! bukan sekolah nya!

sementara ketika kita baru "window shopping" sekolah yang kita lihat lebih dulu pasti bungkusnya, sekolah nya ...

seorang sahabat di ibu kota yang memasukkan anaknya di sekolah konon terkenal bagus(impian saya) di wilayah selatan, kecewa luar biasa. ketika dia berusaha 'bridging' kerja sama dengan guru kelas anak nya sebagai upaya menyamakan visi sehingga di rumahnya dia tidak "belang" mendukung proses belajar anak nya, yang dia dapatkan justru reaksi yang ajaib/di luar dugaan/ mengejutkan "oh, jadi selama ini anak ibu disleksia?!?! pantesan ga bisa baca!" ....

sekolahnya atau guru nya?

sekarang jari jari saya dan otak saya mulai longgar, saya sendiri sedang tenggelam dalam bayangan warna warni pendidikan saat ini. saya beruntung bisa menyekolahkan anak saya ke sekolah tanpa gedung bagus mewah yang punya lapangan futsal atau kolam renang sendiri. saya beruntung anak saya bisa punya guru-guru yang seperti ayah bunda tambahan dalam hidupnya, meski kemudian  kekhawatiran masih antri di batin saya, jika dia SMP kelak, SMA kelak akan kah dia tetap akan menemukan guru-guru luar biasa yang jadi bagian hati dan hidupnya?

saya, stake holder pendidikan indonesia punya tanggung jawab panjang (versi orang tua) untuk mencari guru di sekolah manapun yang peduli dengan anak,hidupnya, pendidikannya dan karakternya sehingga saya bisa bekerja sama memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak saya

saya membayangkan anak saya di sekolah saat ini, sedang dengan pensil segitiganya dalam bimbingan bu guru dan pak gurunya dan saya seolah sedang berkata pada nya "saya dan guru mu tahu apa kebutuhan pendidikan mu,nak"

Selamat Hari Pendidikan Nasional ...

 

 

Tuesday, April 19, 2011

SEMINAR : "Ada Apa dengan Anak ku?"

Kenapa dia tidak suka huruf ?

kok menghitung sederhana saja susah sekali ?

Kenapa percaya dirinya rendah ?

JANGAN BINGUNG!!! IKUTI...........

 

SEMINAR "ADA APA DENGAN ANAKKU?"

Mengenali "Kesulitan Belajar" dan "Kesulitan Belajar Spesifik"

 

Pembicara:

Prof.dr.Purboyo Solek SpA(K)

dr.Kristianti Dewi, SpA

 

Bandung, 30 April 2011

Jam 09.00 - 17.00 WIB

Laboratorium Klinik Parahita

Jl. A.Yani 243 Bandung

 

AYO IKUTI SEMINAR MENARIK INI DAN DAFTAR DENGAN SEGERA!

DITUNGGU LHO.... hubungi saya untuk informasi selengkapnya!

Monday, March 21, 2011

Agar Buah Hati Menjadi Penyejuk Hati

Copy paste from : http://manisnyaiman.com/buah-hati-penyejuk-hati

بسم الله الرحمن الرحيم

Kehadiran sang buah hati dalam sebuah rumah tangga bisa diibaratkan seperti keberadaan bintang di malam hari, yang merupakan hiasan bagi langit. Demikian pula arti keberadaan seorang anak bagi pasutri, sebagai perhiasan dalam kehidupan dunia. Ini berarti, kehidupan rumah tangga tanpa anak, akan terasa hampa dan suram.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (Qs. al-Kahfi: 46).
Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (Qs. at-Taghaabun: 14).
Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakuakan amal shalih dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala[1].
Ketika menafsirkan ayat di atas, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dan Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…”[2].
Kewajiban mendidik anak

Agama Islam sangat menekankan kewajiban mendidik anak dengan pendidikan yang bersumber dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Qs. at-Tahriim: 6).
Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya) ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu.”[3]
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka, seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka), kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya.”[4]
Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiallahu ‘anhu masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah r dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?”[5] Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke masjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut.[6]
Metode pendidikan anak yang benar

Agama Islam yang sempurna telah mengajarkan adab-adab yang mulia untuk tujuan penjagaan anak dari upaya setan yang ingin memalingkannya dari jalan yang lurus sejak dia dilahirkan ke dunia ini.
Dalam sebuah hadits qudsi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (suci dan cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka (Islam).[7]
Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan.”[8]
Perhatikanlah hadits yang agung ini, bagaimana setan berupaya keras untuk memalingkan manusia dari jalan Allah sejak mereka dilahirkan ke dunia, padahal bayi yang baru lahir tentu belum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya, maka bagaimana keadaannya kalau dia telah mengenal semua godaan tersebut?[9]
Maka, di sini terlihat jelas fungsi utama syariat Islam dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga anak yang baru lahir dari godaan setan, melalui adab-adab yang diajarkan dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhubungan dengan kelahiran seorang anak.[10]
Sebagai contoh misalnya, anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seorang suami yang akan mengumpuli istrinya, untuk membaca doa:

بسم الله اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki[11] yang Engkau anugerahkan kepada kami.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang suami yang ingin mengumpuli istrinya membaca doa tersebut, kemudian Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya[12].
Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya metode yang benar dalam pendidikan anak, yang ini berarti bahwa hanya dengan menerapkan syariat Islamlah pendidikan dan pembinaan anak akan membuahkan hasil yang baik.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin berkata, “Yang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jika seorang hamba bertakwa kepada Allah, serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” (Qs. ath-Thalaaq: 4)[13].
Pembinaan rohani dan jasmani

Cinta yang sejati kepada anak tidaklah diwujudkan hanya dengan mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi, yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi-Nya Ya’qub ‘alaihissalam yang sangat mengutamakan pembinaan iman bagi anak-anaknya, sehingga pada saat-saat terakhir dari hidup beliau, nasehat inilah yang beliau tekankan kepada mereka. Allah berfirman,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya.’” (Qs. al-Baqarah: 133).
Renungkanlah teladan agung dari Nabi Allah yang mulia ini, bagaimana beliau menyampaikan nasihat terakhir kepada anak-anaknya untuk berpegang teguh dengan agama Allah[14], yang landasannya adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-semata (tauhid) dan menjauhi perbuatan syirik (menyekutukan-Nya dengan makhluk). Di mana kebanyakan orang pada saat-saat seperti ini justru yang mereka utamakan adalah kebutuhan duniawi semata-mata; apa yang kamu makan sepeninggalku nanti? Bagaimana kamu mencukupi kebutuhan hidupmu? Dari mana kamu akan mendapat penghasilan yang cukup?
Dalam ayat lain Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Qs. Luqmaan: 13).
Lihatlah bagaimana hamba Allah yang shalih ini memberikan nasihat kepada buah hati yang paling dicintai dan disayanginya, orang yang paling pantas mendapatkan hadiah terbaik yang dimilikinya, yang oleh karena itulah, nasehat yang pertama kali disampaikannya untuk buah hatinya ini adalah perintah untuk menyembah (mentauhidkan) Allah semata-mata dan menjauhi perbuatan syirik.[15]
Manfaat dan pentingnya pendidikan anak

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya– berkata, “Salah seorang ulama berkata, ‘Sesugguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat (nanti) akan meminta pertanggungjawaban dari orang tua tentang anaknya sebelum meminta pertanggungjawaban dari anak tentang orang tuanya. Karena sebagaimana orang tua mempunyai hak (yang harus dipenuhi) anaknya, (demikian pula) anak mempunyai hak (yang harus dipenuhi) orang tuanya. Maka, sebagaimana Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْأِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْناً

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya.” (Qs. al-’Ankabuut: 8).
(Demikian juga) Allah berfirman,

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Qs. at-Tahriim: 6).
…Maka, barangsiapa yang tidak mendidik anaknya (dengan pendidikan) yang bermanfaat baginya dan membiarkannya tanpa bimbingan, maka sungguh dia telah melakukan keburukan yang besar terhadap anaknya tersebut. Mayoritas kerusakan (moral) pada anak-anak timbulnya (justru) karena (kesalahan) orang tua sendiri, (dengan) tidak memberikan (pengarahan terhadap) mereka, dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban serta anjuran-anjuran (dalam) agama. Sehingga karena mereka tidak memperhatikan (pendidikan) anak-anak mereka sewaktu kecil, maka anak-anak tersebut tidak bisa melakukan kebaikan untuk diri mereka sendiri, dan (akhirnya) merekapun tidak bisa melakukan kebaikan untuk orang tua mereka ketika mereka telah lanjut usia. Sebagaimana (yang terjadi) ketika salah seorang ayah mencela anaknya yang durhaka (kepadanya), maka anak itu menjawab, ‘Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah berbuat durhaka kepadaku (tidak mendidikku) sewaktu aku kecil, maka akupun mendurhakaimu setelah engkau tua, karena engkau menyia-nyiakanku di waktu kecil maka akupun menyia-nyiakanmu di waktu engkau tua.’”[16]
Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mendidik anak,

“إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول: أنى هذا ؟ فيقال: باستغفار ولدك لك”

Sungguh, seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini?’ Maka, dikatakan padanya, ‘(Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.’[17]
Sebagian dari para ulama ada yang menerangkan makna hadits ini yaitu, bahwa seorang anak jika dia menempati kedudukan yang lebih tinggi dari pada ayahnya di surga (nanti), maka dia akan meminta (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kedudukan ayahnya ditinggikan (seperti kedudukannya), sehingga Allah pun meninggikan (kedudukan) ayahnya.[18]
Dalam hadits shahih lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seorang manusia mati, maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shalih yang selalu mendoakannya.”[19]
Hadits ini menunjukkan bahwa semua amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shalih pahalanya akan sampai kepada orang tuanya, secara otomatis dan tanpa perlu diniatkan, karena anak termasuk bagian dari usaha orang tuanya[20]. Adapun penyebutan “doa” dalam hadits tidaklah menunjukkan pembatasan bahwa hanya doa yang akan sampai kepada orangtuanya[21], tapi tujuannya adalah untuk memotivasi anak yang shalih agar selalu mendoakan orang tuanya[22].
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya– berkata, “(Semua pahala) amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shalih, juga akan diperuntukkan kepada kedua orang tuanya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala anak tersebut, karena anak adalah bagian dari usaha dan upaya kedua orang tuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Qs. an-Najm: 39).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, sebaik-baik (rezeki) yang dimakan oleh seorang manusia adalah dari usahanya sendiri, dan sungguh anaknya termasuk (bagian) dari usahanya.”[23]
Kandungan ayat dan hadits di atas juga disebutkan dalam hadits-hadist (lain) yang secara khusus menunjukkan sampainya manfaat (pahala) amal kebaikan (yang dilakukan) oleh anak yang shaleh kepada orang tuanya, seperti sedekah, puasa, memerdekakan budak dan yang semisalnya.…”[24]
Penutup

Tulisan ringkas ini semoga menjadi motivasi bagi kita untuk lebih memperhatikan pendidikan anak kita, utamanya pendidikan agama mereka, karena pada gilirannya semua itu manfaatnya untuk kebaikan diri kita sendiri di dunia dan akhirat nanti.
Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 20 Jumadal akhir 1430 H
Abdullah bin Taslim al-Buthoni
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A
Artikel www.ManisnyaIman.com


[1] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/482).
[2] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 637).
[3] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[4] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 640).
[5] HSR. al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069).
[6] Fathul Baari (3/355).
[7] HSR. Muslim (no. 2865).
[8] HSR. Muslim (no. 2367).
[9] Lihat kitab “Ahkaamul Mauluud Fis Sunnatil Muthahharah” (hal. 23).
[10] Ibid (hal. 24).
[11] Termasuk anak dan yang lainnya, lihat kitab “Faidhul Qadiir” (5/306).
[12] HSR. al-Bukhari (no. 6025) dan Muslim (no. 1434).
[13] Kutubu Wa Rasaa-ilu Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimiin (4/14).
[14] Lihat keterangan Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (6/414).
[15] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (3/586).
[16] Kitab “Tuhfatul Mauduud Biahkaamil Mauluud” (hal. 229).
[17] HR Ibnu Majah (no. 3660), Ahmad (2/509) dan lain-lain, dishahihkan oleh al-Buushiri dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam “Silsilatul Ahaaditsish Shahiihah” (no. 1598). Ketika mengomentari hadits ini al-Munawi dalam “Faidhul Qadiir” (2/339) berkata, “Seandainya tidak ada keutamaan menikah, kecuali hadits ini saja maka cukuplah (menunjukkan besarnya keutamaannya)”.
[18] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/339).
[19] HSR. Muslim (no. 1631).
[20] Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang akan kami sebutkan nanti.
[21] Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “doa anak yang  shalih”, tapi yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, “… anak shaleh yang selalu mendoakannya“, artinya: semua amal kebaikan anak yang  shalih pahalanya akan sampai kepada orang tuanya.
[22] Lihat kitab “Ahakaamul Janaaiz” (hal. 223).
[23] HR Abu Dawud (no. 3528), an-Nasa’i (no. 4451), at-Tirmidzi (2/287) dan Ibnu Majah (no. 2137), dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.
[24] Kitab “Ahakaamul Janaaiz” (hal. 216-217).

Monday, January 31, 2011

Seminar & workshop Pendidikan

Sekolah Alam Bandung mempersembahkan:



Seminar dan Workshop Pendidikan Sekolah Alam Bandung
Seminar Masalah Belajar dan Prilaku pada Anak, Penanganan dan Langkah Penanganan

-direkomendasikan u/ orangtua, guru dan umum

Minggu, 13 Februari 2011 jam 09-12.00



Workshop Memahami Karakteristik Gangguan Belajar dan Kesulitan Belajar

- direkomendasikan u/ guru, pedagog, terapis, mahasiswa pendidikan dan umum termasuk ortu yang berminat mendalami

Minggu, 13 Februari 2011 jam 13.30-17.00



Pembicara: Adi D. Adinugroho-Hortsmann, Ph.d

Ortopedagog dan asisten profesor di University of Hawaii, USA. Berpengalaman lebih dari 15 tahun dalam mengajar dan menangani anak-anak berkekhususan terutama kondisi mild-severe di Indonesia dan di USA.



Tempat: GSG Salman ITB
Jl. Ganesha no 7 Bandung


Investasi :
seminar Rp 100.000
workshop Rp 250.000 (disc 10% untuk mengikuti keduanya)

Fasilitas:

seminar & workshop kit, snack, lunch (u/ workshop), sertifikat, door prize, tempat penitipan anak



Pendaftaran:

Ida Yasin (081320905791)

Tria (081395314545) FB: tria barmawi Email: triabarmawi@gmail.com
sasa (08112227460) email : e.prasty@gmail.com



Thursday, January 20, 2011

Talking to Louis Barnett an amazing Dyslexic entrepeneur at Bridge Radio


One of the best  ways to  spend a Sunday, in my opinion, is at my local radio station,  Bridge Radio 102.5  FM,  which is run a by a great bunch of committed, if  slightly mad enthusiasts and few  Sundays ago, I was privileged to be part of Dr Paul’s Sunday show ‘Bridge Matters’.Paul invited along  myself and  a local young  entrepeneur by the name of Louis Barnett, who at the tender age of 19 is a licensed chocolatier,and  became the youngest supplier to both Sainsbury and Waitrose at the age f 14.

Born in the Staffordshire village of  Kinver,  he left school at 11 years  due to learning difficulties to be home educated.He was later diagnosed with Dyslexia and Dyspraxia.

He started making chocolates for friends and family and in 2005 he formed a company Chokolit Ltd.,to deal with the growing demand.He is now an ambassador for the British Dyslexia Association as well as a  lobbyist against the destruction of the habitat of the Sumatran Orang-u tan through intensive palm oil production.He  received the Lord Carte Award for excellence in the food industry and was nominated for a Young Entrepreneur Award in 2007.

Talking and listening  to this erudite, intelligent  young man (hear a clip of the show), talk with such ease,  and charm, showing very few signs of the Dyslexic condition, his struggle with conventional approaches to learning,I sensed that  he had found and utilised his strengths and indeed used  to his  advantage the ‘outside  the box’ thinking skills, which are part of the natural strengths of most  Dyslexics.It also became clear to me that this unconventional education has  helped to set Louis on the  road to his success.

We are only too aware of this  need at LTS and so we have included a new  series of workshops to be run at the centre, entitled   ‘MIND OVER MATTER….’  open to anyone, but we particularly welcome teachers /parents/trainers/ HR managers.More details on a later blog.

Louis is a shining, yet typical example of how Dyslexics  can become  successful entrepreneurs despite their difficulties.Indeed Louis is very aware of this and  is soon to be taking on a new role of business mentor.(See my blog on why Dyslexics make great entrepreneurs).

If you have been inspired by this story or  would like to read more about Louis, go to www.chokolit.com or find him on Facebook and Twitter.

Inspirational thought ….People don’t only succeed through success;they often succeed through failures.

Success isn’t how far you’ve come,but how far you are from where you started….

Saturday, January 8, 2011

antara idealisme dan kenyataan

Sebuah hal menarik membuat saya memiliki paradigma baru tentang konsep pendidikan di indonesia.

Begini ceritanya..
Tadi siang dalam sebuah parenting terbatas untuk pembukaan kelas khusus Disleksia yang telah diakui dan disetujui keberadaannya oleh diknas propinsi jawa barat, pembicara tamu dari diknas menpresentasikan tentang desain pendidikan inklusi 'versi' diknas. Saya suka sekali, sesuai dengan impian saya selama ini.

Jadi Ternyata, apa yg disampaikan tadi sungguh program yang sangat ramah anak secara individual, menghormati semua potensi anak dan hak-hak nya untuk mendapat perlakuan pendidikan secara pribadi. Saya kagum, sebenarnya dengan program tersebut, negara sudah memfasilitasi setiap anak utk berkembang sesuai dengan kompetensinya, tidak memaksa mengikuti program/kurikulum yg 'mubadzir' di masa depan anak ... Saya tersenyum, kemana saja informasi ini all the time going?. Kemudian disampaikan meski kenyataan 'tak seindah daun kelor' di lapangan, sebagai orang tua yang mengidam2kan pendidikan ideal bagi anaknya, ini adalah harapan yang indah.

Namun, sayangnya informasi bagus ini tidak sampai sebagaimana mestinya ke tingkat kota/kabupaten, sehingga degradasi ini juga merambat ke satuan pendidikan (sekolah) di tingkat kota apalagi hingga ke kabupaten. Sialnya, ... :p ... Kekuatan penguasa daerah juga menentukan jalannya program bagus ini. Sukabumi sudah terbuka, bogor sudah terbuka ... Bandung belum ... (Sibuk dengan penghargaan kepariwisataan, tadi liat bannernya di depan BalKot).

Sang Pembicara mengakui, realita ini kendala teknis yg harus dihadapi dan diperjuangkan. Namun sulit jika paradigma stakeholder penyelenggara pendidikan belum memaknai konsep inklusi sebagaimana hakikatnya dan merubah cara pandang terhadap target pencapaian per murid ..

Banyak yang belum mengetahui (apalagi orangtua barangkali) apa fungsi Ujian-ujian yang ada selama ini. Saya juga kaget (shallow banget :p) ternyata ujian -ujian tersebut ga ada hubungannya ama anak, semua sifatnya secara regional atau nasional hanya untuk memetakan dimana posisi sekolah atau bagaimana program2 pendidikan yg didesain lembaga tersebut efektif terhadap anak (indonesia), sialnya (lagi) kok anak-anak yang kena getah nya hahhaha ...

Hal lain, menyoal rata-rata nilai anak, tidak kah kita merasa sangat tidak 'apple to apple' kalo nilai matematika, bahasa,olahraga, kesenian di ambil summary nilainya utk mendapat nilai rata2 performance anak. Kalau menilik ke multiple intelegensia, bukankah tidak semua anak bisa punya nilai rata pada setiap mata pelajaran? Sehingga kasian sekali kalo matematika 2 dan keseniannya 10 , nilai rata2 dia cuman 6! Sehingga keberbakatan dia di bidang seni ga ada artinya sama sekali! ..

(Jadi selama ini NEM itu ga menghargai potensi anak ya :p)

Makanya, yang tadinya (cieeeehh ...) saya ga pro ama 'pendidikan nasional'. Jadi ngerti, itu bukan yang saya ketahui selama ini, I judged diknas for nothing! Saya sama seperti masyarakat lainnya yang menganggap Ijazah itu luarbiasa!

Namun, jadi satu2 nya yang ngerti dan paham di tengah pandangan masyarakat yang masih 'jaman dulu' juga tidak akan membantu reformasi pendidikan ini lebih cepat ...

Saya share ini, dengan harapan semakin banyak orang yang tau 'impian' tentang pendidikan yang baik ini. Yuk, cari informasi yang benar dan mengelola informasi yang benar (terutama, Hai anda yang ada di diknas ringkat kota/kabupaten) sehingga masyarakat bisa kasih dukungan dan pengawasan agar proses pendidikan anak2 kita ini sesuai tepat dan membangun potensi anak ...

Wednesday, January 5, 2011

Two years and many years to come


Sekitar januari 2009, sebuah jawaban akhirnya memutus belitan pertanyaan yang telah lama menganggu kenyamanan kami. Menjawab semua pertanyaan tentang kesulitan-kesulitan yang tidak masuk akal. Jawaban yang memasukan kami ke sebuah kehidupan yang baru. Dunia Dyslexia.

ah kesulitan membaca dan menulis saja, ternyata kompleks.

Dyslexia, sebuah neurodiversity, bukan kecacatan tapi menjadi bagian seumur hidup dawwi. Diagnosa nya dyslexia dan kawan-kawan, dyscalculia dan dysgraphia. 'Kesederhanaan' masalah ini buyar setelah saya banyak belajar tentang dyslexia, karena seiring tumbuh kembang nya yang terintegrasi masalah psikologis akan jadi negative impact yang luar biasa jika dyslexia di hadapi setengah hati. Saya dan ayah pun hidup di dunia ini, dunia dyslexia ..

Gangguan prilaku pun membuat kami bersikap 'khusus' menghadapi dawwi. Tak jarang kritikan tajam mampir ke kuping kami :).

Dyslexia is not simple back than.

Buku, internet, seminar, workshop, parenting class, dokter, psikolog jadi sahabat-sahabat terbaik menemani kami 'digging up the things'. Kadang lelah, sering menangis, sering kesal, tidak sabar tapi itulah bagian dari perjalanan kami bersama-sama.

Namun Dawwi anak yang beruntung, semoga keberuntungan nya seperti kalung yang selalu menggantung dileher, bersamanya selalu. Kasus dyslexia diagnosanya kebanyakan tegak sekitar kelas 3-4, saat masalah mulai muncul dan dampak-dampak dari masalah tersebut mulai mengisi pertumbuhan psikologis si anak. Dua tahun lalu, dawwi dinyatakan dyslexia pada usia 5,5 tahun saat masih di TK B. Terapi prilaku mengawali perjalanan panjang ini hingga saat ini menjalani terapi remedial+prilaku. Kami punya kesempatan mempersiapkan dawwi menerima keadaanya secara menyeluruh dan 'mempersejatai' nya untuk menempuh perjalanan panjang. Tidak cuma dokter,psikolog (juara bageur na) dan terapis yang sabar, Dawwi juga di dampingi guru yang mengerti keadaannya dan berdedikasi luar biasa (mau menerima dan membimbing dawwi, mau belajar tentang hal baru, sangat luar biasa ikhlas membantu dan bekerja sama). Dalam kelelahan saya, biasanya saya akan menghubungi gurunya, ibu ayu (dulu dgn bu indri, bu euis, pak wahyu, sekarang pak alip dan ibu vina orthopaedagog di sekolah). Mendengar cerita dan evaluasi bu ayu dan guru2 yang lain membuat saya lebih 'seimbang' memandang perkembangan dawwi serta membuat saya lebih bersyukur ....

Sepanjang jalan ini, tadi saat makan siang saya mendengarnya membaca tentang 'lahirnya' gunung krakatau dari buku yang baru kami beli, saya tak kuasa menahan diri memeluk dan menciumnya di tengah hiruk pikuk restoran. Jalan yang penuh warna ini memberikan hasil dan harapan bahwa setelah jalan berikutnya yang akan kami tempuh dawwi pasti akan jadi ksatria dunia, entah jadi apa kelak dia saya yakin dia akan menaklukan dunianya.

Semoga keberuntungan selalu jadi milik mu, nak! Semoga Allah mengizinkan dan memberi kemampuan untuk ayah bunda mendampingi mu terus hingga dunia di tangan mu ...

Saya yakin perjalanan panjang berikutnya bisa kami lalui ...


Bandung, januari 2011