Monday, March 14, 2016

Dawwi, Disleksia dan Akomodasi UN






Tahun lalu, akhirnya kami sepakat bahwa “baiklah” jikalau Dawwi ingin dan akan mengikuti Ujian Nasional tingkat sekolah dasar. Saat itu kami masih memiliki tanda tanya besar tentang makna dan manfaat UN bagi anak Indonesia. Singkatnya, hasil diskusi dengan beberapa guru dan pemikiran panjang kami lalui sebelum memutuskan Dawwi untuk mengikuti UN.

Sejak memasuki semester genap, anak-anak mulai memasuki pola belajar yang lebih intensif untuk mempersiapkan diri menghadapi UN. Saya berkomunikasi secara intens dengan guru-guru kelas, Bu Hera & Pak Iden, mulai dari isu tren materi UN terkini hingga bagaimana kecakapan Dawwi dalam persiapan tersebut. Kemampuan membaca komprehensfi masih menjadi tantangan besar saat itu, extra-time belajar dirumah yang menguras emosi dan fisik, telah menjadi tambahan upaya meningkatkan kemampuan pemahaman baca soal yang diharapkan akan membantu dia memiliki hasil yang baik. Lagipula, Bu Hera & Pak Iden menyatakan apa yang mereka upayakan sudah maksimal dan program ‘bimbel’ pun tidak masuk dalam daftar saran demi menghargai waktu istirahat anak.

Dawwi pun memilih tidak ikut Bimbel. Saya belikan berbagai buku untuk latihan soal dirumah sebagai bentuk remedial dari apa yang sudah dilatih di sekolah. Saya mencari kertas lembar jawab UN yang mirip aslinya, scan ulang lalu print yang banyak dan dijadikan lembar latihan mengisi data diri dan mengisi soal. Ini menjadi sebuah latihan setengah nyata, sebab bagi anak dengan disleksia mengisi data diri dalam lembar jawaban UN merupakan kesulitan tersendiri. Salah-salah semua kotak/bulatan huruf akan diisi sejajar. Kesalahan yang tidak bisa diterima ‘mesin pembaca jawaban’, bukan?

Mengenali pencapaian belajarnya dari hari-hari di rumah, hasil perbincangan dengan Bu Hera & Pak Iden dan melihat hasil beberapa kali Try Out, akhirnya saya menanyakan kemungkinan Dawwi dan seorang temannya disleksia lainnya untuk mendapat akomodasi saat UN. Pimpinan Sekolah tertinggi saat itu merespon pertanyaan saya dengan jawaban yang melegakan “kami akan upayakan”. Alhamdulillah, saat itu kerisauan saya berkurang. Namun demikian, dengan prasangka terhadap birokrasi yang yang sudah ‘berabad-abad’ menguasasi citra pemikiran saya, saya harus siap apabila semua tidak sesuai harapan.

Hingga tiba suatu hari saya mendapatkan pesan untuk bertemu dengan guru-guru kelas. Disampaikanlah bahwa hasil pembicaraan pihak sekolah dengan panitia UN rayon setempat memberikan  jawaban bahwa akomodasi akan dipertimbangan untuk diberikan dengan persyaratan yaitu surat permohonan dari pihak sekolah yang dilampirkan surat keterangan dari ahli yang menjelaskan kondisi/diagnosa kekhususan anak, perkembangan anak saat ini (6 bulan menjelang UN) dan kebutuhan akomodasi yang diperlukan untuk UN. Lutut saya langsung lemas, muka saya cengengesan ‘gumun’ hati saya berteriak-teriak “ ya Allah, ya Allah, Ya Allah!” dihadapan Bu Hera & Pak Iden. Mereka tersenyum penuh arti dan berkata “bisa kan bu?’

Saya jadi teringat pesan seorang pendidik, teman lama, yang setengah menangis mengatakan “dzallim lah kita sebagai orang dewasa yang tidak bisa memenuhi hak anak-anak kita,  termasuk hak belajarnya, termasuk kebutuhan belajar anak-anak dengan kebutuhan khusus”.

Jleb....

Pun hak ujiannya, ternyata adalah kebutuhan yang harus diperjuangkan. Lalu saya jawab “Bisa bu, pak!. Saya akan dapatkan surat yang dibutuhkan”.

Waktu itu akhir bulan Maret, Sayapun bergegas mencari waktu bertemu dengan dr.Kristiantini Dewi,Sp.A, partner medis kami yang selama ini membantu dan mendampingi kami sekeluarga melalui hari hari bagai roller coaster menjalani hidup bersama anak dengan disleksia. Kami berdiskusi panjang lebar tentang persiapan UN ini. Kami menghargai dan berharap besar apa yang sudah dilakukan pihak sekolah akan membuahkan hasil dan betul-betul memenuhi hak-hak dawwi & temannya. Dengan harapan apabila ini terwujud akan menjadi sebuah breakthrough bagi anak-anak disleksia lainnya di kota Bandung dan di Indonesia bahwa anak dengan disleksia bisa mendapatkan akomodasi Ujian nasional . Hingga saat itu Ujian Nasional di Indonesia merupakan High-stakes Standardized Test, saya pribadi amat tidak menyukai ini, hingga saat tahun lalu UN masih menjadi exit exam atau penentu kelulusan di semua jenjang pendidikan di Indonesia. Sungguh tidak adil dan tidak masuk akal. Kebayang kan, anak dengan disleksia dan diskalulia dengan kesulitan belajar diarea berbahasa lisan dan tulisan dan berhitung, berpotensi lebih besar gagal daripada anak biasa yang juga sama merasakan susahnya materi Ujian berstandar. Mereka belajar enam tahun gila-gilaan lalu masa depan kelanjutan sekolahnya ditentukan hanya dengan 3 hari UN?. Padahal anak dengan disleksia adalah anak yang cerdas, secara kognitif saja mereka memiliki kecerdasan normal hingga diatas rata-rata. Itu sebabnya penting bagi anak disleksia mendapatkan akomodasi saat menghadapi ujian, apalagi ujian berstandar sama (untuk berbagai kemampuan anak) dan beresiko sangat tinggi. They do not deserve to fail, most after six years of learning!

Bagaimana surat Rekomendasi itu dikeluarkan?.
Dr. Tian melakukan assessment kembali untuk mengetahui perkembangan Dawwi terkini, sehingga bisa diketahui akomodasi apa saja yang diperlukan saat UN nanti. Setelah memberikan surat tersebut ke sekolah yang bisa kami lakukan hanya menunggu and berharap kabar yang baik.

Bulan April, saya menanyakan kemajuannya, belum ada jawaban dari panitia rayon.
Bulan Mei, tinggal hitungan hari menjelang UN, saya menanyakan lagi dan jawabannya “ dapat akomodasi bun!” .. yeayyy rasanya jantung berdegub manis. Saya seperti tertimpa buah-buahan yang jatuh ‘muruluk’ dari pohon .. “apa aja akomodasinya, pak?” lanjut saya. “sejauh ini infonya hanya ruangan dipisahkan”

Rasanya, saya ingin memungut buah-buahan yang tadi jatuh dan saya pasangkan satu-satu lagi ke masing-masing rantingnya dan menyimpan satu saja buahnya.

Hanya ruangan terpisah, apa gunanya?, cuman ini hasilnya?. Kami lalu ‘duduk’ lagi dan ngobrol panjang lagi. Beberapa tahun ke belakang, anak yang pernah mendapatkan akomodasi UN pun ternyata hanya mendapatkan ruangan terpisah. Rasanya (lagi) saya ingin menghadap siapa gitu yang ‘pintar’ dan berkuasa atas pendidikan dan pendidikan inklusi di kota ini dan bertanya “do you know how it feel for being dyslexic dan harus UN?!?!”. Cuman dalam keinginan saja sambil menggumam, kan tahu begini, ga usah ikut UN lagipula dia sudah diterima di Sekolah barunya.

18-20 Mei 2015, Tiga hari untuk enam tahun belajar. Dawwi sempat bergumam “ga adil, belajarnya enam tahun, ujian cuman 3 hari dan 3 mata pelajaran”. 3 hari yang harus dihadapi dengan persiapan yang melelahkan jiwa raga. 6 minggu sebelum ujian, dia menangis mengatakan dia banyak ga bisanya saat try out. Hasil try out di sekolah pun memberikan gambaran nilai yang membuat kami menarik nafas panjang dan menjejakkan kembali kaki sekuat mungkin ke bumi, harus realistis. Dawwi bilang ingin mengikuti bimbingan belajar, saya kebingungan, bimbel mana yang punya program 6 minggu?. Saya datangi beberapa tempat bimbel dan semua menolak, hingga akhirnya saya bisa ngobrol dan meminta ‘seseorang’ di sebuah lembaga bimbel untuk mau memberikan bimbingan secara privat dan intensif dalam 6 minggu ke depan, saya ceritakan siapa Dawwi, bagaimana keadaannya dan dimana dia bersekolah saat ini. Allah Maha baik, ternyata seseorang ini pernah menyekolahkan anaknya di sekolah yang sama dengan Dawwi dan amat memahami anak-anak seperti Dawwi. Tak perlu menunggu lama, keluarlah jadwal bimbel privat 4,5 minggu untuk Dawwi, setiap sore!.  Saya suka menangis menemani dia belajar, memeluk dan menciuminya saat tidur, memahami dan merasakan kelelahannya. Jam 8 – 14.30 di sekolah, bimbel jam 17.00 – 18.30, sampai rumah dia meminta kembali belajar, tentir. Terkantuk-kantuk hingga tertidur saat belajar. Subhanallah.

Pernah di suatu malam beberapa hari menjelang UN, saya mendapati dia beberapa kali ‘mojok’ sebelum tidur. Ternyata dia melarikan diri ke dalam Al-Quran, padahal dia belum bisa membacanya, dia tertatih-tatih menjelahi surat-surat apapun yang dia bisa baca sebisanya. Dawwi meneduhkan keresahan hati dan kelelahan jiwanya. Menemukannya memanjangkan sujudnya, diam-diam saya dengar dia merintih memohon pertolongan Allah.  Saya ikutan mojok disudut lain, menangis tersedu-sedu, sesegukan tanpa suara.  Sebersit sesal muncul, kenapa juga harus ikut UN, kok ya gini-gini amat tekanannya. Kembali saya peluk dia erat saat tidur, saya bisikan doa-doa dan semangat bahwa UN yang akan dia tempuh bukan tentang hasil NEM nya nanti, bahwa  lima bulan terakhir tersebut adalah kawah Candradimuka yang mendidihkan kerja kerasnya bahwa segala sesuatu itu harus dicapai dengan kerja keras, pantang menyerah dan untuk ‘kita’ semua itu dilakukan tujuh kali lebih keras daripada anak-anak biasa lakukan karena kita adalah anak-anak yang istimewa. Bahwa  lima bulan terakhir tersebut adalah Ramadhan extra tahun ini dimana semua kesabaran, ketabahan, keimanan ketakwaan diolah, ditempa, digilas dan dibentuk semaksimal dan lebih istimewa. Sebab ujian-ujian sesungguhnya tidak hanya tentang UN saat ini, akan ada 2 UN lagi, ujian-ujian lain baik di sekolah maupun dilingkungan sosial. Ternyata saya tidak hanya sedang membisikan itu ke telinga Dawwi, saya bisikan kedalam jiwa saya, kedalam kesadaran saya. Kamilah peyangganya yang harus dia percaya dan kepada Nyalah semua itu harus dikembalikan, sebuah pembelajaran besar tentang “Surrender to The Almighty Allah”, mojok …

Hari pertama UN, saya sedang tidak shalat dan teman-teman orang tua melenggang memasuki masjid didekat lokasi UN untuk shalat pagi. Saya meringis, iri hati luar biasa. Didalam sana teman-teman saya menyerahkan setumpuk doa dan harapan kepada Yang Maha Agung setelah dhuha dan saya cuman halamannya ‘mampu’ berdzikir dan berdzikir. Jam 10.00 anak-anak keluar saya berdegup menyambut Dawwi keluar, kami semua saling memeluk anak-anak dan menebar senyum lebar, click away muka-muka cemas kami.

Dalam perjalanan kami bertanya bagaimana ujian Bahasa Indonesia hari ini, jawabannya “good, soalnya mudah”. Alhamdulillah  … (meski sambil bertanya-tanya juga, seperti apa itu yang mudah). Sepanjang jalan pulang, meluncurlah ceritanya bahwa di tempat ujian mereka mendapatkan ruang terpisah, Dawwi dan temannya mendapat pengawas masing-masing. Para pengawas memperhatikan saat mereka menuliskan data diri di lembar jawaban, bahkan teman Dawwi mendapat bimbingan langsung penulisan data dirinya. Pengawas juga menanyakan apakah mereka memahami soalnya, beberapa soal dibacakan ulang sampai mereka mengerti, teman dawwi lebih banyak dibacakan soalnya oleh pengawas, kalau lelah mereka boleh ke kamar mandi, pengawas tidak galak sehingga tidak membuat suasana menjadi tegang, mereka diingatkan tentang waktu meskipun tidak mendapat waktu tambahan, mereka diingatkan apakah sudah menjawab semua soal dan menuliskan jawaban ‘ditempatnya’ (bukan jawaban yang benar). Saya terkesima, wow! Terbayang buah-buah yang jatuh muruluk tadi, biarlah tetap jatuh muruluk, saya rela pungutin satu-persatu. Masya Allah, saya bahagia sekali. Dawwi dan temannya dirahmati Allah, disayangi Allah, dilindungi Allah, hak mereka terpenuhi. Dia Maha Penyanyang, Maha Adil dan Maha baik

Pada hari kedua, Ujian Matematika. Dawwi bercerita soalnya lebih mudah dari yang dia pelajari di rumah, hari ini dia tidak banyak memanfaatkan tawaran akomodasi yang diberikan, hanya satu dua soal cerita saja yang dia tanyakan ‘apa sih ini artinya’. Mereka mendapatkan beberapa lembar kertas kosong untuk ‘mengotret’ , diingatkan tentang waktu dan penulisan jawaban ditempat yang benar. Teman Dawwi masih mendapatkan bimbingan penulisan data diri dan didampingi penuh oleh pengawasnya. Waktu ujianpun tidak termanfaatkan semuanya dan boleh ke kamar mandi beberapa kali.

Hari Ketiga Ujian IPA, Dawwi keluar dari mesjid dan berkata “selesai sudah tiga hari untuk enam tahun ini. Still not fair!” saya tertawa , ya sayapun merasakan demikian pada kenyataannya hingga 2014 UN tidak dimanfaatkan sebagai alat pemetaan kualitas pendidikan yang pernah dicanangkan, tingkat kecurangan yang sangat tinggi, mafia nilai dan rusaknya moral anak dan tenaga guru terkait jadi isu serius yang disorot publik. Saya bilang ke Dawwi “ tenang bang, abis ini masih ada ujian agama, outbond dan lain-lain di sekolah kok, masih Fair, pelajaran lain juga ujian” dan dia mendelik kesal sambil terkekeh. Cerita UN hari ini tidak sedasyat hari pertama, namun saya bahagia ketika dawwi bilang IPA lebih bisa dipahami, dan akomodasi yang mereka dapatkan sama seperti dua hari sebelumnya.

Hari itu saya merevisi semua kekecewaan saya, saya bersyukur dia bisa ikut UN, walaupun dia sudah diterima di sekolah barunya yang tidak butuh nilai NEM. Saya bersyukur dia menempuh segudang waktu-waktu sulit yang menempa dirinya dalam 5 bulan terakhir.

Saya melihat, sebegitu besar cinta dan perhatian tulus bapak-ibu gurunya. Bu Hera baru saja melahirkan saat itu, hari pertama beliau paksakan datang membawa bayinya yang baru lahir untuk mendukung dan memberi semangat murid-muridnya. Saya masih mengingat wajah anak-anak perempuan yang penuh haru dan menyambut kedatangan bu hera di halaman tempat mereka berkumpul. Hari-hari sebelum UN beliau dedikasikan untuk murid-muridnya belajar keras mempersiapkan UN dengan perut dan beban yang semakin besar. Saya ingatkan Dawwi dan anak-anak lain, jangan sampai berdosa kepada guru kalian, pengorbanannya penuh cinta tulus & sangat besar sekali. Pak Iden ‘terpaksa’ jadi guru tunggal yang sibuk menemani anak-anak selama UN, ketegangan terlihat dibalik wajah yang selalu tersenyum. Kepala sekolah selalu hadir setiap hari memberikan semangat kepada siswa siswi kelas 6 angkatan tahun ini.

“One looks back with appreciation to the brilliant teachers, but with gratitude to those who touched our human feelings. The curriculum is so much necessary raw material, but warmth is the vital element for the growing plant and for the soul of the child.” – Carl Jung


Sebulan berikutnya, kami bertiga, saya, ayah dan dawwi mendapatkan hasil dari perjalanan panjang 6 bulan terakhir. Mengapa kami, padahal hanya Dawwi yang UN?. Saat ayah menghadiri pembagian hasil ujian, kami memang sepakat bahwa UN bukan tentang berapa nilai yang akan didapat. Sebab begitu UN selesai kami menilai semua proses yang dilalui selama lima bulan tersebut adalah pelajaran luar biasa bagus dan intens, hasil UN yang ayah terima adalah 'hanya untuk  pembuktian" kepada Dawwi “siapa yang bekerja keras, Allah tidak akan diam, dia akan mendapatkan hasil yang luar biasa bagusnya”, berapa hasil nilai Ujian Dawwi dan temannya yang juga disleksia?

Hasilnya berbanding lurus dengan kerja keras mereka dan hak akomodasi Ujian yang mereka dapatkan. Betul-betul sepadan!

Hasilnya berbanding lurus dengan kekeraskepalaan guru-guru kelas dan orangtua untuk memperjuangkan hak akomodasi Ujian yang mereka harus dapatkan. Betul-betul sepadan!

Hasilnya berbanding lurus dengan kerja keras panitia UN sekolah meminta kepada panitia Rayon atas hak akomodasi Ujian murid-murid mereka. Betul-betul sepadan!

Allah tidak akan tinggal diam atas usaha umatnya , Allah Maha Penyayang dan Maha Adil.

Ayah tercengang sesaat begitu membuka lembar NEM ditangannya dan hanya bisa berkomentar “andai ga ada siapa-siapa di sekolah ini saya ingin gugulitikan dari atas bukit sampai ke bawah” sementara Raut muka Pak iden (bu hera masih cuti melahirkan) penuh rasa gembira puas, lega dan bahagia.

Bagi Dawwi tidak penting berapa nilai NEM yang dia raih, butuh waktu berhari-hari untuk dia menyadari bahwa hasil yang dia dapatkan itu ‘remarkable’. Ketika emosi sudah menyurut baru dia ‘ngeuh’ dan bergembira dengan dirinya sendiri bangga mempunyai nilai UN yang bagus. *tepok jidat*

Dengan selembar surat nilai UN itu, kami ingatkan kembali  bahwa semua kerja keras akan berhasil dengan baik.

Kami refleksikan kembali andaikata dia tidak belajar dengan luar biasa dasyatnya kira-kira apa hasil yang akan dia dapat?

Kami refleksikan kembali andaikata dia berserah diri dan banyak berdoa dan memohon kepada Allah, bagaimana kira-kira hasil yang akan dia dapat?

Dia menyadari, Allahlah satu-satunya tempat menggantungkan harapan, doa dan menyerahkan segala urusan kehidupan, betapa pentingnya bisa baca Al-Quran (bonus besar sebuah motivasi untuk belajar) dan betul-betul terbukti bahwa semua kerja keras yang ‘bikin mati’ (karena semua perjuangannya sudah melewati level ‘setengah mati”) akan memberikan hasil yang sangat baik dan Allah tidak pernah tinggal diam.

Sementara bagi kami ayah dan bunda, Ibu Hera, Pak Iden, pihak sekolah dan dr.tian selembar surat nilai UN Dawwi dan temannya menjadi bukti bagi pendidikan untuk anak disleksia dan seluruh sistem pendukungnya, bahwa akomodasi yang tepat adalah betul-betul hak mereka yang harus diperjuangkan & akomodasi yang tepat akan memberikan hasil yang baik sesuai dengan kemampuan mereka yang luar biasa


*********

https://www.understood.org/en/school-learning/partnering-with-childs-school/tests-standards/at-a-glance-types-of-accommodations-for-standardized-tests

http://edglossary.org/test-accommodations/

http://www.aasa.org/SchoolAdministratorArticle.aspx?id=14932

5 comments:

MY LOVE DAFFA said...

Haturnuhun pisan Bu Sasa....untuk ceritanya....dan bacanya sambil carinakdak...hiikkkssss.....

Saya melewati hari...hari belajar dgn tangis...rasanya ingin bisa..bantu Daffa.. tp selalu...kemampuan saya terbatas...

Tahun dpn 2017..saya bersiap...siap... untuk maju...ke sekolah Daffa..hadapi UN menjalankan kewajiban saya...untuk membantu Daffa....

Haturnuhun bu Sasa....

Wini Suwarna said...

Waaah terharu saya membacanya. Btw tulisannya baguuuuuus banget��

erlyza prasty said...

Nuhun teteh, you witness all of our story, itu lebih dari sekedar dukungan, nuhunnnn

erlyza prasty said...

Semangat bu, daffa akan dapatkan haknya, ibu adalah malaikatnya ..pelukssss

grace subagia said...

Tulisan yg sangat memberikan semangat. Nuhun bu Sasa