Saturday, January 6, 2007

ACA

A C A

Antibodi Antikardiolipid

Keguguran berulang tanpa sebab yang jelas bisa jadi karena antibodi antikardiolipid (ACA). Antibodi itu juga bisa menyebabkan stroke dan infark jantung pada usia muda. Demikian diungkapkan pakar hemostasis dan trombosis Prof Dr dr Karmel L Tambunan SpPD KHOM dari Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam jumpa pers menjelang Kongres Nasional Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) IX, Selasa (4/9), di Jakarta.

Kongres itu, menurut Ketua PHTDI dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM, akan diselenggarakan tanggal 7-9 September 2001 di Semarang. Selain diikuti anggota PHTDI dari seluruh Indonesia, juga akan dihadiri para ahli dari Kanada, Australia, Selandia Baru, Inggris, Belanda, Perancis, Thailand, dan Singapura.

Pembicara lain dalam jumpa pers adalah Prof Dr dr A Harryanto Reksodiputro SpPD KHOM, dr Djumhana Atmakusuma SpPD KHOM, dan Kepala Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia dr Auda Aziz.

"Antibodi antikardiolipid mendorong terjadinya trombosis atau pembekuan darah dalam pembuluh darah. Jika terjadi di plasenta, bekuan darah akan mengganggu pasokan zat gizi dan oksigen bagi janin sehingga terjadi keguguran pada usia kehamilan tiga atau empat bulan. Jika tidak keguguran, biasanya janin tidak berkembang atau meninggal dalam kandungan," urai Tambunan.

Dalam tiga tahun belakangan ini, lebih dari 240 pasien yang mengalami keguguran berulang, ada yang empat kali keguguran, dirujuk. Setelah diobati, 95 persen membaik dan bisa mempunyai anak.

"Stroke" dan "infark" jantung

Sindrom antifosfolipid yang diakibatkan ACA ini jika terjadi di vena akan menyebabkan emboli pada paru, di arteri jantung menyebabkan infark jantung, di otak menyebabkan stroke, di pembuluh darah mata menyebabkan buta, dan di pembuluh telinga menyebabkan tuli.

Kasus yang ditemui Tambunan antara lain, pemuda berusia 18 tahun mengalami infark jantung dan wanita berusia 22 tahun mengalami stroke. "Jadi infark jantung dan stroke bukan lagi monopoli orang lanjut usia," kata Tambunan.

Selain itu, bentuk sindrom antifosfolipid adalah migrain yang tak kunjung sembuh. Setelah diobati dengan antikoagulan atau antipembekuan darah, ternyata migrain sembuh.

Penyebab sindrom ini ada dua, primer -yaitu genetik- serta sekunder akibat infeksi virus termasuk toksoplasmosis, infeksi bakteri, atau disebabkan obat-obatan. Jika penyebabnya faktor genetik, obat harus diminum seumur hidup.

Selama ini faktor risiko trombosis yang umum diketahui adalah kadar kolesterol tinggi, diabetes, asap rokok, homosisteinemia, serta tingginya faktor pembekuan darah dalam tubuh.

Faktor-faktor itu merangsang proses pembekuan darah berlebihan jika terjadi perlukaan pada dinding pembuluh darah. Trombus atau gumpalan darah yang menempel di dinding pembuluh darah bisa terlepas dan menyumbat pembuluh darah. Jika tak segera diobati, bisa menyebabkan kematian.

"Perokok, termasuk perokok pasif, berisiko lima sampai sepuluh kali mengalami trombosis dibanding bukan perokok. Oleh karena itu, di negara maju merokok dilarang di tempat umum," ujar Tambunan.

sumber : kompas

No comments: