Monday, March 12, 2007

Calistung pada PAUD Salah Besar!

Dari Pikiran Rakyat :

Calistung pada PAUD Salah Besar!
Akan Membatasi Interaksi Siswa dengan Lingkungan

BANDUNG, (PR).-
Pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung) pada anak usia dini merupakan salah satu bentuk kesalahan terbesar yang diterapkan sistem pendidikan nasional Indonesia. Pada usia dini, pengajaran calistung justru akan membatasi interaksi siswa dengan lingkungan. Interaksi merupakan salah satu komponen penting untuk melejitkan kecerdasan anak.

PENGURUS Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Jawa Barat menandatangani Deklarasi Himpaudi mendukung Akselerasi Pembangunan & Peningkatan Mutu Pendidikan Anak Usia Dini Jabar di RSG BP Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (PLSP) Regional II Jayagiri, beberapa waktu lalu.*DIDIN SJ/HUMAS "PR"

Demikian diungkapkan Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Dr. Ace Suryadi, saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) I Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Provinsi Jawa Barat (Jabar) di Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BP PLSP) Regional II Jayagiri Lembang Kab. Bandung, Rabu (7/3).

"Kecerdasan anak akan berkembang pesat melalui interaksi intensif dengan lingkungan sekitar. Jika tidak ada interaksi, kecerdasan anak justru tidak akan berkembang. Sementara, pengajaran calistung pada usia dini justru akan semakin menjauhkan anak dari interaksi dengan lingkungan. Oleh karena itulah, pengajaran calistung pada anak usia dini tidak diperbolehkan," katanya.

Bahkan, menurut Ace, di negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia, pengajaran calistung pada anak usia dini telah dilarang. "Hanya Indonesia yang masih memperbolehkan dan justru bangga jika berhasil mengajarkan calistung pada anak yang berusia di bawah 6 tahun," ujarnya menegaskan.

Dia menilai, alangkah lebih baiknya jika anak usia dini diajarkan untuk berbicara atau mengembangkan kemampuan motoriknya secara terprogram dan sistematis. Namun, jika keinginan belajar calistung itu berasal dari diri anak secara langsung, menurut Ace, itu sah-sah saja. "Yang penting, jangan ada unsur paksaan bagi si anak agar ia mau belajar calistung,"tuturnya.

Salah kaprah

Namun, menurut pakar budaya di Jawa Barat, Popong Otje Djundjunan, yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya. Orangtua justru berlomba-lomba berusaha untuk membuat anaknya yang masih berusia balita pandai calistung. "Masih banyak implementasi proses pendidikan di Indonesia yang justru salah kaprah.

Orang tua bangga jika anaknya yang masih balita sudah pandai calistung," katanya. Hal itu, lanjut Popong, tidak terlepas dari banyaknya penyimpangan sistem pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar. "Tidak sedikit sekolah dasar yang mensyaratkan agar calon siswa yang mendaftar ke sekolah tersebut telah memiliki kemampuan calistung yang baik. Bahkan, ada sekolah yangdengan terang-terangan menolak calon siswa yang belum bisa calistung," tuturnya.

Dia menilai, hal itu merupakan kebijakan yang salah. Pasalnya, mengajarkan anak untuk pandai membaca, menulis, dan berhitung sesungguhnya merupakan tugas guru sekolah dasar, bukannya pendidik usia dini. "Saya berharap, pemerintah segera melakukan tindakan tegas. Kalau bisa, secepatnya menyebarkan surat edaran, yang isinya melarang sekolah dasar memberlakukan syarat bisa calistung untuk calon siswa. Ini demi memperbaiki sistem pendidikan nasional. Karena pada dasarnya kebijakan untuk mengajarkan calistung pada anak usia dini tidak dibenarkan," tuturnya.

No comments: