Monday, March 12, 2007

KURSUS BACA MULAI DI USIA 3

DARI NAKITA ONLINE:

KURSUS BACA MULAI DI USIA 3

Mana tahan kalau tak pasang target?

Meski tes calistung hanya merupakan bagian dari proses seleksi, tetap saja keberadaannya memengaruhi nilai anak. Wajar bila orangtua punya kekhawatiran dan akhirnya membekali anak dengan kemampuan calistung saat masih di TK bahkan playgroup.

DR Rose Mini A.P., MPsi, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, berpendapat curi-curi start agar si kecil bisa calistung boleh-boleh saja. Asalkan caranya tepat. "Punya keinginan untuk maju itu bagus. Hanya tidak dengan cara yang membebani anak. Bagaimanapun juga anak punya tugas perkembangan sesuai dengan usianya. Tugas perkembangan itu harus dilalui dan diselesaikan sesuai masanya.

Kalau sekadar berkenalan tentu boleh. Yang penting, si prasekolah tahu bahwa ada, lo, yang namanya tulisan. "Jadi kalaupun ingin mengajarkan calistung atau memasukkan si kecil ke kursus, lihat-lihat dulu program dan metodenya, cocok atau tidak bagi anak seusianya," saran psikolog yang akrab disapa Romi ini.

DUDUK MANIS? NO WAY

Sore itu (11/7), suasana kursus baca tulis di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang dikunjungi nakita persis sebuah taman bermain. Semrawut! Dalam satu kelas tampak sekumpulan peserta kursus yang usianya berbeda-beda; dari 3 sampai 5 tahun. Satu guru membimbing 4-5 murid.

Memang, guru akan mengajarkan materi yang berbeda pada masing-masing anak; untuk si usia 3 tahun, 4 tahun, dan 5 tahun. Namun, bisa dibayangkan keramaiannya. Seorang anak tampak sibuk mewarnai gambar, yang lainnya berlari-lari mencari-cari buku yang menarik, sementara yang agak besar sedang menyimak apa yang dikatakan sang tutor.

Pemandangan seperti itu juga ditemukan pada sebuah kursus baca tulis lainnya yang berpusat di kawasan Kelapa Gading. Guru-gurunya tampak harus mengubah-ubah gaya dan cara mengajar kepada masing-masing anak yang dalam sekelas jumlahnya sampai belasan.

Toh, kalau orangtua menginginkan les privat bagi anaknya, bisa-bisa saja. Si kecil akan diajarkan baca tulis dengan lebih instensif oleh seorang guru. Namun tentu hitung-hitungan bayarannya akan berbeda. Bila normalnya 140-160 ribu per bulan, untuk privat tentu akan lebih mahal. Guru les baca tulis pun dapat dipanggil ke rumah. Soal honor, biasanya tergantung tawar-menawar.

KEJAR TARGET

Memang, penyelenggara kursus baca tulis ini sudah meninggalkan cara lama yang tidak menyenangkan misalnya meminta peserta kursus menghafal abjad A-Z di luar kepala lalu mengejanya. Mereka sepakat program yang diberikan tidak boleh memberatkan anak didik.

Dengan metode-metode yang dipakai, pihak pengelola kursus percaya anak-anak bisa membaca dan menulis hanya dalam waktu 3-6. Alhasil, tempat-tempat kursus baca tulis cukup digandrungi. Malah ada seorang ibu peserta yang merasa mendapat dua keuntungan lewat kursus baca tulis ini. "Mendingan di sini, bayarannya murah dan tidak setiap hari. Anak jadi bisa baca-tulis. Coba di playgroup, bayarannya lebih mahal dan anak pun belum tentu bisa langsung baca-tulis."

Untuk mengejar waktu, dalam setiap sesi yang makan waktu 45 menit hingga 1 jam, guru kursus harus bisa mencapai target materi tertentu. Ini berarti, anak tetap diberi "beban" untuk terus maju ke setiap program yang sudah dicanangkan. Nah, inilah yang perlu diwaspadai. Yang dikhawatirkan "target" tersebut menuntut anak secara berlebihan.

Satu lagi kekurangan tempat kursus baca tulis ini, sepertinya mereka melupakan bahwa meskipun usia para peserta didik sama tetapi kemampuan setiap anak berbeda-beda. Ada yang sudah siap menangkap materi kursus dan ada yang belum. Yang belum siap bisa-bisa malah frustrasi. Untuk itulah, bila si kecil dimasukkan les baca-tulis, pemantauan dari orangtua tetap diperlukan.

Dedeh, Zali

CIRI KESIAPAN CALISTUNG

Siap membaca:

- Anak menunjukkan ketertarikan pada buku dan melihat-lihat isinya.
- Anak sudah lancar berbicara
- Konsentrasi sudah baik.
- Sudah memiliki koordinasi antara kemampuan visual dan motorik halus; sudah bisa menangkap objek dan memvisualisasikannya lewat gambar.
- Sudah bisa membedakan spasial seperti atas-bawah, kiri-kanan, besar-kecil, depan-belakang.

Siap menulis:

- Anak mampu mengenali lambang
- Kemampuan motorik halus sudah berkembang dengan baik.

Siap berhitung:

- Mengerti konsep dasar berhitung penambahan dan pengurangan sederhana.
- Mengenal konsep bilangan dengan simbol angka serta makna urutannya, misal 2 harus lebih dulu daripada 5.

Bila tanda-tanda tadi sudah ada pada diri si kecil maka pelajaran calistung dapat diberikan. Caranya tentu dengan bermain yang menyenangkan. Memang cara itu butuh teknik dan waktu yang lebih lama ketimbang bila anak didril. Tapi inilah yang paling aman sebab tidak membuat anak tertekan.

Kalau si prasekolah belum siap, ya biarkan saja. Misalnya dia belum mau disuruh memegang pensil, ini berarti si kecil belum siap belajar menulis. Jangan dipaksa. Tugas orangtua dalam tahap ini adalah menumbuhkan minatnya. Jangan khawatir, menginjak usia 6 tahun, secara kognitif anak sudah siap menerima program membaca, menulis, berhitung, dan bahkan bahasa asing.

Dedeh

TIP PILIH KURSUS

Kursus calistung yang menggunakan metode tidak tepat dan cenderung menekan anak hanya bermanfaat dalam jangka pendek, tapi tidak untuk jangka panjang. Memang benar anak jadi bisa membaca, menulis dan berhitung. Tapi dalam jangka panjang ia jadi alergi dengan yang namanya calistung. "Sangat mungkin anak trauma terhadap berbagai buku dan enggan membaca. Ia pun bisa alergi matematika," ungkap Fitriani F. Syahrul, M.Si. psikolog dari Yayasan Pendidikan Insan Kamil.

Inilah poin yang harus diperhatikan dalam memilih kursus calistung seperti diutarakan Ong Seok Yan, Kepala Sekolah Pre-school Pat's Schoolhouse, Jakarta yang bergelar Master dalam bidang pendidikan anak usia dini:

· Hindari kursus calistung yang menargetkan anak bisa membaca dalam kurun waktu tertentu apalagi dengan metode yang tidak menyenangkan (memaksa/mendrill).

· Pastikan tempat kursus itu mengajarkan tahapan membaca lewat pre-reading/writing (prabaca/pratulis).

Faktor-faktor tahapan prabaca, di antaranya mengenal aktivitas menulis dimulai dari kiri ke kanan. Bukan sebaliknya. Sedangkan contoh kegiatan pratulis antara lain menstimulasi keterampilan motorik halus anak dengan memintanya mewarnai sebuah gambar.

· Kursus itu menggunakan metode menyenangkan, antara lain dengan bermain drama atau cerita. Dengan cerita, anak secara tidak sadar dikenalkan dengan berbagai simbol, yang nantinya diketahui sebagai huruf.

· Pastikan tempat kursus itu memperlakukan muridnya sebagai individu yang unik. Setiap anak berbeda satu sama lain dalam hal kemampuan, karakter, minat, hobi, buku cerita favorit, dan lain-lain. Ini sangat memengaruhi ketika guru mengajarkan membaca dan menulis. Cara mengajarkan membaca kepada anak yang satu boleh jadi berbeda dari anak lainnya.

· Perhatikan apakah pihak penyelenggara mengekspektasi anak secara berlebihan atau tidak. Contoh, anak 0-10 tahun masih dalam masa bermain. Ia tidak akan tahan duduk dan kosentrasi dalam waktu lama (untuk balita hanya 15 menit). Jadi bila metode kursusnya mengharuskan balita duduk manis selama 30 menit bahkan 1 jam, tentu ini bukan pilihan yang baik.

Jika syarat-syarat di atas terpenuhi, maka les calistung sangat bermanfaat. Secara tidak sadar, anak bisa membaca dengan sendirinya, dimulai dari kalimat sederhana dan pendek. Saat pelajaran menulis dimulai, anak juga sudah siap menuliskan pengalaman sederhananya.

Ipoel

No comments: